Members Links (Text only)

Minggu, 30 Januari 2011

THE HELPING PROCESS


            Istilah proses menunjukkan adanya peristiwa-peristiwa yang terus berlangsung serta makna dari peristiwa-peristiwa tersebut. Tiap tahap dalam proses ini menuntut sejumlah ketrampilan khusus. Sebagai contoh, pada awalnya, ketrampilan memahami dan memberi dukungan merupakan hal yang diutamakan dalam membangun suatu relasi kerja. Pada tahap berikutnya, ketrampilan memutuskan dan berbuat lebih diperlukan.
            Dalam kelangsungan suatu proses, setiap helper harus menentukan dengan cepat apakah akan memfokuskan dalam individu atau pada pekerjaan yang langsung untuk merubah kondisi lingkungan. Proses-proses dan metode-metode yang digambarkan dalam buku ini berasumsi bahwa helper memutuskan untuk bekerja secara langsung dengan individu.

I Relationship (Relasi)

            Proses menolong terjadi dalam suatu hubungan atau relasi. Dalam konteks formal, relasi semacam ini dilakukan dalam bentuk wawancara, yang merupakan suatu relasi menolong yang terstuktur  yang biasanya hanya melibatkan dua orang.
            Unsur-unsur yang membangun suatu relasi dapat digambarkan sebagai berikut:
“Helping Relationship dalam wawancara”







 


Perasaan

 
Helpee
 
Wawancara
(Relasi)
 
Helper
 
Perasaan
 
                                                                             


















 

Harapan

 
                                                                             
Harapan
 





keahlian
 

Masalah
 





            Relasi menolong bersifat dinamis, yang berarti selalu berubah-ubah, baik secara verbal maupun nonverbal. Relasi ini adalah merupakan suatu proses yang penting bagi helper dan helpee untuk menunjukkan dan memenuhi kebutuhan-kebutuhannya dengan sebaik mungkin. Guna menjaring masalah-masalah helpee dengan keahlian helper. Relasi menekankan pada cara efektif, karena relasi biasanya diartikan sebagai kualitas yang berarti dari interaksi.

Membuka Relasi

            Dalam memulai suatu relasi tak resmi (informal) penting dilakukan pembukaan seperlunya dengan beberapa cara. Yang dimaksud untuk membina hubungan baik antara helper dan helpee.
            Helper yang tidak berpengalaman biasanya membutuhkan pendekatan dalam suatu relasi dengan sejumlah kecemasan tertentu. Petunjuk-petunjuk berikut diharapkan membantu mempermudah saat-saat awal dari kontak pertama:
1.      Salam Pembuka
Mengucapkan salam atau sejenisnya adalah suatu langkah awal yang diajurkan untuk menguatkan kehadiran dan menghargai orang lain. Salam yang menyenangkan juga mengawali relasi dari suatu situasi yang familiar bagi helpee.
2.      Mengapa Anda Disini?
Jika kontak berlangsung atas inisiatif helpee, biasanya akan mengawali dengan penyatakan mengapa ia meminta pertolongan anda. Jika helpee tidak memulai, maka ajukan pertanyaan sederhana untuk meksud “Katakan pada saya, mengapa anda disin?” dapat ditanyakan. Jika kontak terjadi atas inisiatif helper, anda diminta untuk mengungkapkan suatu pertanyaan yang ringkas dan jujur tetang mengapa anda ingin bertemu dengannya, walaupun helpee yang pendiam mungkin membutuhkan keberanian yang lebih untuk berbicara.
3.      Kemana kita menuju dari sini?
Relasi informal akan menyurut dan mengalir sesuai kecenderungan alami dari dua orang. Walaupun tujuan utamanya adalah untuk menjaga agar helpee tetap berbicara mengemukakan kepentingan pribadinya dengan sesedikit mungkin pertanyaan dari helper. Helpee diberi semangat atau keberanian untuk mengungkapkan dengan caranya sendiri dan mendiskusikan topik yang mereka pilih, sementara helper mendengar dengan aktif.
Perhatian kita yang tulus pada cerita helpee adalah suatu cara untuk menunjukkan ketertarikan dan perhatian terhadap orang lain juga. Jika relasi menolong mengarah pada suatu wawancara yang lebih formal, maka kita perlu menghadirkan pertimbangan-pertimbangan sebagai berikut:
Apa tujuan kita? Apa kewajiban dan tanggung jawab kita pada orang ini? apa peran saya sebagai helper? Apa dasar ilmiah dari kontrak menolong antara kita? Pertanyaan-pertanyaan tersebut mengatur tahapan untuk proses detail yang akan didiskusikan berikutnya.

Dimensi-Dimensi  Dalam Relasi Menolong

            Brammer & Shostrom (1977) membuat daftar dimensi-dimensi utama dalam suatu relasi menolong, yaitu:
1.      Uniquaness – Commonality
Relasi menolong secara umum adalah unik diantara interaksi-interaksi menusia. Relasi-relasi tersebut memiliki suatu gambaran umum, meskipun bentuknya bermacam-macam dan kompleks sebagaimana orang-orang yang terlibat. Salah satu contoh keunikan dalam relasi menolong adalah adanya penerimaan yang luas yang tidak biasa terhadap helpee.
2.      Intellectual – Emotional Content
Suatu relasi pada mulanya adalah merupakan suatu pertemuan emosional antara dua orang, dimana dapat saja terjadi tidak adanya kata-kata yang terucap atau pun suatu pertukaran verbal dan intelektual yang serius.
Relasi menolong secara khas mencakup spectrum yang penuh dari perasaan dan pikiran. Biasanya ada suatu kemajuan dari keterlibatan emosional yang dihasilkan dari suatu level awal dari attraction atau menarik perhatian kepada persahabatan yang lebih dalam, melalui keterlibatan yang bertambah dalam suatu petemuan sejati (true encounter). Level yang terdalam ini dicirikan dengan perhatian yang penuh terhadap kesejahteraan yang lainnya.
Kualitas emosional terdalam dari suatu relasi menolong bercirikan elemen-elemen sebagai berikut:
·        Kualitas empati
·        Persahabatan, terdapat keterlibatan satu sama lain
·        Kualitas perhatian dan cinta yang mendalam
·        Pertemuan sejati, dimana ada perbuatan yang saling timbal balik (menguntungkan) dari memasuki dunia pengalaman pribadi orang lainnya.
Kualias intelektual dari relasi ini dicirikan dengan self-dialogue, termasuk berfikir mengenai apa yang sedang terjadi, memutuskan apa yang akan dilakukan selanjutnya dan bertanya-tanya dalam hati makna dari relasi ini.
Salah satu implikasi penting dari helper disini adalah menyadari level keterlibatan emosional yang terjadi dan konsekuensinya bagi helpee. Optimal – tidaknya suatu level adalah tergantung dari bagaimana tujuan yang dimiliki. Helper, pada tahap ini mereka mungkin kehilangan aktivitasnya untuk mengembangkan relasi sebagaimana yang terjadi pada sepasang kekasih atau orang tua –anak.
Oleh karena itu maka helper perlu untuk tetap mempertahankan objektivitasnya dengan kendali yang beralasan dari perasaan-perasaan mereka sendiri dan mengetahui apa yang sedang terjadi pada relasi. Namum mampu pula menjadi seorang partisipan emosional untuk menjaga keterlibatan helpee suatu level perasaan yang diperbolehkan.
3.      Ambiguity – Clarity
Menunjukkan persepsi terhadap relasi menolong sebagai sesuatu yang sama atau terstruktur. Ambiguitas memperbolehkan helpee untuk memproyeksikan kebutuhan-kebutuhan, kepentingan-kepentingan, dan perasaan-perasaannya dalam suatu relasi tanpa suatu paksaan.
Jika relasi terlalu embigue dalam tujuan dan identitas helper, helpee akan beraksi dengan kecemasan yang agak dan akan mengembangkan dalam percakapan sosial. Kunci untuk memecahkan dilema ini adalah bahwa helper dan helpee memutuskan bahwa relasi menolong ini dirancang untuk menyelesaikan dan memilih suatu tahap pemberian pertolongan yang disesuaikan dengan tujuan.
Sebagai contoh, misalnya yang menjadi tujuan adalah untuk menggali perasaan helpee atau untuk menemukan apa yang terdapat dalam benaknya. Tinggalkan relasi menolong tersebut sehingga peran sebagai helper tersebut menjadi kabur sehingga helpee dapat menggunakan relasi yang ada sebagai suatu “layar” dimana ia dapat memproyeksikan perasaan, pikiran-pikiran maupun tujuan-tujuannya.
4.      Trust – Distrust
Dimensi yang sangat menentukan dalam menjalin relasi adalah kepercayaan dan ketidakpercayaan. Unumnya helpee mau menerima pertolongan dari orang yang mereka percaya. Untuk mengembangkan suatu kepercayaan, helpee harus memiliki suatu keyakinan serta dapat mempercayai apa yang dikatakan oleh penolongnya. Perilaku helper yang spesifik, seperti adanya motif, untuk menolong, dapat menimbulkan kepercayan. Motif dari helper harus nyata dan dapat menarik perhatian helpee, dan bukan merupakan suatu tameng dari usaha helper untuk mengendalikan, memanipulasi atau menghukum helpee. Dalam kondisi demikian maka helpee akan  merasa diterima dengan hangat dan dihargai. Sehingga mereka akan dapat menerima pertolongan yang diberikan sebagai suatu usaha yang tulus. Helpee akan mengalami suatu hubungan yang merupakan usaha bersama yang bersifat ….. menuju suatu perkembangan, yang dianggapnya sebagai pemecahan masalah yang timbale balik serta proses belajar. Dengan demikian maka helpee akan merasa bebas untuk menerima maupun menolak relasi maupun pertolongan yang diharapkan.
Sebaliknya, ketidakpercayaan seringkali mengakibatkan helpee menolak tawaran yang ditolong, karena ia memiliki dugaan bahwa helper ingin mengubahnya. Helpee dapat menjadi ketergantungan, inferior, tidak berdaya, tidak dihargai, sehingga kemudian menolak helper. Reaksi-reaksi demikian dapat menjadi suatu lingkaran urutan kejadian-kejadian, sejak helper merasa penolakan tersebut dan merasa tidak dihargai bahwa mungkin ditolak. Selanjutnya helper dapat berusaha secara lebih intensif, namun terselubung, untuk membuat suatu perubahan dalam diri helpee yang diliputi oleh usaha balas dendam, yang sering kali mengakibatkan mendinginnya atau bahkan mengakhiri relasi yang telah dibina. Yang diiringi oleh perasaan ketidakpuasan maupun kemarahan pada masing-masing pihak. Salah satu kedok yang paling didasari oleh niat buruk dalam menolong seseorang adalah suatu relasionalisasi bahwa helper bertindak untuk kebaikan helpee sendiri. Padahal sebenarnya ia melakukannya dengna tujuan untuk memanipulasi atau menghukum helpee, guna memuaskan keinginan pribadinya.
Strong & Schmidt (1970) melakukan suatu penyelidikan mengenai akibat dari sikap yang layak dipercaya yang dipersepsikan berdasarkan pengaruh helper. Mereka menemukan bahwa tingkah laku yang layak dipercaya dari seorang helper didefinisikan antara lain dengan menunjukkan minat yang tulus terhadap helpee seiring dengan tiadanya motif-motif tersembunyi, ketidakmampuan menyimpan rahasia, maupun prilaku yang sombong. Adalah sulit untuk menghasilkan karakteristik peran yang nyata dari perilaku layak dipercaya tersebut telah memperjelas hakekat dari proses mempercayai.
Dalam penelitian berikutnya, Kaul & Schmidt (1971) menyelidiki faktor-faktor yang memperngaruhi persepsi terhadap sikap yang layak dipercaya. Mereka menemukan bahwa perlakuan pewawancara memiliki akibat yang lebih nyata dalam mempersepsikan sikap yang layak dipercaya, dibandingkan dengan kata-kata.
Yang menjadi inti dalam diskusi mengenai hal ini adalah bahwa kita harus lebih memperhatikan akibat yang ditimbulkan oleh komunikasi non-verbal. Apa yang kita ungkapkan melalui tubuh kita akan berhubungan dengan ketulusan dan kejujuran kita. Definisi Kul dan Schmidt mengenai orang-orang yang layak dipercaya adalah seseorang yang menghormati adanya kebutuhan, kenyamanan serta keinginan untuk menceritakan persoalan-persoalan yang dihadapi, dan memiliki keterbukaan serta kejujuran. Kepercayaan juga muncul dari reputasi helper yang positif.

II. Proses Menolong Sebagaimana yang Dialami “Helper” dan “Helpee”

            Urutan kejadian berikut adalah mengenai pengalaman tipikal dari helper dan helpee memulia kontrak pertama hingga mencapai hasil akhir. Keurutan secara umum ini tidak bergantung pada gaya atau teori menolong tertentu, namun merupakan pengembangan dari proses alamiah dalam memecahkan suatu masalah.
            Proses ini bergerak secara tipikal mulai dari suatu pernyataan awal (initial statement) dari masalah yang dihasilkan helpee hingga usaha penterjemahan masalah menuju pada kesadaran yang luas terhadap pesan-pesan yang terselubung. Kemudian helpee bergerak kearah pengertian yang lebih mendalam terhadap masalahnya. Kepada tujuan-tujuan yang diinginkan ke dalam suatu kesadaran akan adanya kebutuhan untuk memecahkan masalah, untuk mengalami dan merasakan strategi dan metode dari helper untuk mencapai tujuan serta menyelesaikan permasalahan.
            Pada akhirnya, helpee akan merasakan sendiri hasil akhirnya. Proses ini sepertinya amat rumit, namun sebenarnya merupakan gerakan-gerakan yang alamiah menuju suatu goal (tujuan akhir) memuaskan kebutuhan yang dimiliki, maupun untuk menyelesaikan masalah. Helper akan menjalani suatu proses parallel, mulai dari mengalami pertanyaan-pertanyaan awal, kemudian membentuk beberapa dugaan dan kesimpulan mengenai apa yang sedang terjadi. Berikutnya adalah membuat perjanjian kerja dengan helpee. Pada akhirnya, helper memilih strategi yang dianggap tepat untuk menolong, dan kemudian bergerak kearah pencapaian hasil akhir.

Proses Menolong Yang Dialami Oleh Helpee dan Helper

Fase I : Membangun Suatu Relasi

Tingkah Laku Helpee
Pertanyaan-pertanyaan awal yang berhubungan.
·        Bagaimana saya mengungkapkan keinginan saya akan suatu pertolongan?
·        Saya butuh pertolongan…
·        Saya memiliki suatu masalah
·        Saya tidak bahagia
·        Ada suatu yang tidak benar
·        Saya tidak dapat menampilkan
·        Saya tidak dapat memutuskan
·        Dapatkah saya mempercayai orang lain?
·        Kenapa saya mesti melibatkan diri dalam hal ini?
Tingkah Laku Helper
Pertanyaan-pertanyaan dan reaksi-reaksi awal.
·        Kenapa orang ini ada disini?
·        Bagaimana ia memandang situasinya saat ini?
·        Apa perasaan dan pemikirannya?
·        Bagaimana ia mempersepsikan saya dan hubungan yang terjadi ini?
·        Bagaimana sebenarnya dunianya?
·        Apa yang diinginkannya dari saya?
Tingkah Laku Helpee
Pertanyaan mengenai tujuan (biasanya dalam bentuk “saya ingin…”)
·        Saya ingin dapat memutuskan… melakukan… merencanakan…
·        Saya ingin agar dapat merasa lebih yakin… lebih berguna… bahagia…
·        Saya ingin agar orang-orang menyukai saya… mendengar saya…
·        Saya ingin agar dapat berbuah menjadi… agar dapat menghindari…
Tingkah Laku Helper
Kesimpulan awal serta penilaian mengenai kebutuhan helpee.
·        Helpee membutuhkan suatu proses perencanaan, pemecahan masalah, pengambilan keputusan.
·        Helpee membutuhkan suatu relasi untuk mengatasi perasaannya dan memperoleh suatu dukungan.
·        Helpee membutuhkan informasi
·        Helpee membutuhkan suatu bantuan khusus.
Pernyataan awal yang diterjemahkan dalam pesan-pesan dasar
·        Saya tidak dapat mengatasi tuntutan-tuntutan dalam diri saya sendiri, dari orang lain, dari situasi yang ada.
·        Saya butuh lebih banyak informasi, lebih banyak keahlian, lebih banyak cinta, lebih banyak pengertian.
Menformulasikan Kesimpulan, Prasangka maupun Dugaan-Dugaan
·        Pesan apa yang ingin disampaikan helpee?
·        Saya melihat masalah helpee sebenarnya adalah…
·        Apakah benar?
·        Dapatkah saya menemukan harapan-harapan helpee?
·        Informasi tambahan apakah yang harus saya gali lebih dalam?
Kesadaran Akan Proses Kebutuhan.
·        Saya menginginkan suatu relasi agar dapat menggali perasan-perasan saya.
·        Saya menginginkan informasi yang spesifik mengenai…
·        Saya ingin membicarakan mengenai pilihan-pilihan saya yang beraneka ragam…
·        Saya ingin mempunyai lebih banyak pilihan untuk dipertimbangkan.
Membuat Suatu Perjanjian Atau Kontrak Untuk Memenuhi Harapan-Harapan Helpee
·        Saya akan (dapat)…
§  Memberi informasi
§  Menyediakan waktu untuk mendengar
§  Memberikan dukungan
·        Saya tidak akan (tidak dapat)
§  Berhubungan dengan orang ini
§  Menemukan harapan-harapannya.
·        Saya mengharapkan helpee ini untuk…
§  Menjalankan bagiannya seperti yang telah disepakati

Fase II Memudahkan Tindakan-Tindakan Positif

Tingkah Laku Helpee
Mengalami strategi dan metode helper
·        Saya menemui helper untuk tujuan-tujuan yang telah disetujui
·        Saya merasakan apa yang kami lakukan sebagai suatu yang menolong (tidak menolong) berdasarkan
Tingkah Laku Helper
Memilih strategi untuk memberikan pertolongan
·        Saya memilih metode wawancara yang spesifik unuk mengetahui kebutuhan-kebutuhan helpee.
·        Saya menginginkan umpan balik dari helpee terhadap efektivitas dari pertolongan yang diberikan
Mencarikan Bukti-bukti dari Pencapaian Tujuan Pemberian Pertolongan.
·        saya melihat kemajuan yang dicapai helpee kea rah tujuan yang diinginkan.
·        Saya berencana untuk menghentikan relasi menolong isi.
Hasil-Hasil Yang Dialami
·        Saya merasa lebih baik
·        Saya merasa lebih baik terhadap orang-orang di sekeliling saya
·        Kemampuan saya telah terbukti
·        Saya merasa lebih baik mengenai situsi saya saat ini
·        Saya mengikuti suatu
·        Saya memperoleh pekerjaan sebagai
·        Saya merasa saat ini saya sudah mampu dalam
Hasil Akhir Yang Dipersepsikan
·        Saya merasa diri saya dapat memberikan pertolongan pada helpee
·        Saya melihat tingkah laku spesifik yang telah dipelajari helpee, bentuk tindakan yang telah dipilihnya, atau rencana-rencana yang telah dibuatnya.
·        Saya mendengarkan pernyataan-pernyataan mengenai perasaan-perasaan yang telah dialami helpee.
·        Terjadi akumulasi dari pengalaman menolong sehingga helper menjadi terampil (outcome positif)

III Tahap-Tahap Dalam Proses Menolong

            Tahapan-tahapan yang telah diuraikan sebelumnya merupakan tipikal dari proses yang terdiri dari dua fase relasi dan tindakan, yang tidak selalu muncul dalam uraian demikian ataupun ditandai oleh munculya setiap tahap, karena biasanya helpee akan menentukan urutan dan panjangnya proses bersangkutan.
            Sebagai contoh, beberapa helpee datang dengan permintaan-permintaan yang samara tau tidak jelas. Kadang-kadang hanya dengan alasan perasaan yang tidak nyaman: sementara yang lainnya datang dengan permintaan-permintaan yang spesifik. Harapan-harapan yang telah benar-benar dipikirkan, dan berbagai macam pengalaman lainnya. Beberapa pertolongan membutuhkan bentuk keahlian tertentu yang spesifik, misalnya dengan relaksasi. Yang lainnya melalui bentuk yang lebih membutuhkan pemikiran, misalnya dengan pemberian informasi, pembuatan keputusan, pemecahan masalah, atau pembentukan suatu rencana karir maupun pendidikan. Seringkali terdapat pula permintaan untuk bantuan dalam mengelola perasaan yang kuat. Atau membantu memecahkan masalah-masalah interpersonal. Bermacam-macam kebutuhan maupun pernyataan mengenai masalah helpee ini dengan sendirinya menyebabkan timbulnya berbagai variasi tahap pemberian pertolongan.
            Variabel lainnya yang turut menentukan urutan dan penekanan yang diberikan pada tiap tahap dalam proses menolong adalah pendangan teoritis yang dimiliki helper. Dalam relasi menolong dapat ditemukan 8 tahap dalam kedua fase pemberian bantuan, sebagai berikut.

Fase Pembentukan Relasi

1.      Tahap Persiapan Memasuki Suasana Relasi
Tahapan ini bertujuan untuk menimbulkan kesiapan sering menghilangkan keseganan helpee yang dapat menghambat kelancaran wawancara, yakni membuka wawancara dengan meminimalkan hambatan, kepercayaan yang sedikit, dan penjelasan tentang keinginan, kemauan helpee.
Helper harus menyadari kenyataan dari relasi yang baik dibina tersebut, antara lain bahwa:
·        Tidak mudah memberikan bantuan
·        Sulit untuk memasukkan pertolongan helper, karena bantuan adalah merupakan ancaman terhadap penghargaan, integrasi
·        Tidak mudah unuk langsung memecahkan persoalan
·        Kadang-kadang masalah dilihat terlalu besar, dan terlalu umum untuk dibagi bersama
Beberapa kondisi dari helpee yang harus diterapkan:
·        Kesadaran dari perasaan yang sukar
·        Keinginan untuk berubah dari keadaan/tingkah laku saat ini
·        Kesadaran yang potensial dan batas waktu untuk memberikan pertolongan
·        Keinginan sukarela untuk dilihat oleh helper

2.      Klarifikasi
Tujuan tahap ini adalah untuk menjelaskan pernyataan helpee mengenai apa yang menyebabkan ia membutuhkan bantuan serta untuk memperoleh kejelasan mengenai pandangan helpee mengenai masalah yang dihadapinya dan situasi kehidupannya.
Helper harus berhati-hati dalam mengemukakan pertanyaan. Apabila helper terlalu cepat dalam mengemukakannya kadang-kadang helpee dapat merasa diintrogasi terutama bila pertanyaan yang diajukan tidak bijaksana.
Dalam sesi penelesaian masalah, jika semua fakta telah didapatkan, maka penyelesaian masalah muncul karena kebijaksanaan dari helper. Pada dokter, biasanya diagnosa dikatakan setelah mengajukan  sejumlah pertanyaan dan melakukan pemeriksaan. Akan tetapi tujuan dari Psychological helping tidaklah untuk mengembangkan relasi pasif seperti ini, dengan cara mengurangi pertanyaan yang diberikan dan secara aktif mendengar, serta membayangkan perasaan yang diekspresikan oleh helpee.
Kita harus menunda segala penilaian dan membatasi pemikiran diagnostik, terutama pada tahap awal. Helper berusaha membayangkan kehidupan atau dunia dari helpee dan mencoba memasuki kerangka perceptual helpee. Diagnose adalah suatu usaha penting untuk menghadapi orang-orang yang tergantung dan bukan merupakan cara yang terdapat dalam kerangka “helping relationship”.
Helper memberikan dorongan kepada helpee untuk menjelaskan sikap dan jenis pertolongan yang mereka inginkan. Proses ini bukanlah sesuatu yang mudah, karena helpee seringkali tidak mengetahui mengapa mereka menginginkan suatu bantuan.
Pada umumnya helpee menyadari adanya beberapa tingkah laku yang membuat mereka merasa tidak nyaman, tidak efektif, marah, atau cemas. Kadang-kadang juga mereka menyadari suatu ketidaknyamanan. Sehingga memberikan pertanyaan “Mengapa” menjadi suatu hal yang tidak efektif. Seperti “Mengapa anda mempunyai perasaan seperti itu?” Yang lebih produktif adalah membuat helpee memfokuskan perasaan dan pikirannya dalam pertanyaan “Apa”, seperti “Apa yang anda rasakan sekarang?” atau “Apa yang anda lakukan?” Pertanyaan seperti ini akan membuat helpee mengeksplorasi pikiran mereka sendiri.
“Bagaimana” juga merupakan jenis pertanyaan yang dapat menjelaskan suatu masalah. Contohnya, helper dapat bertanya “Bagaimana perasaan anda sekarang tentang interview ini?” helpee dapat menjelaskan topik itu dengan cara mereka dan dalam waktu yang sama menerangkan dan memperhatikan respon mereka.
Siapa Yang Bermasalah
Hal lainnya yang harus diperhatikan adalah membimbing untuk menentukan siapa yang bermasalah. Apakah masalah ada pada diri orang yang berelasi atau masalah itu sebenarnya merupakan masalah dari salah satu orang yang berelasi. Contoh orang tua meminta bantuan tentang anaknya, padahal sebenarnya orang tua sendiri yang merasakan adanya masalah itu. Sedangkan anaknya sendiri tidak. Tujuan dari tahap kedua ini adalah menjelaskan siapa klien yang sebenarnya, dan mendapatkan alasan klien datang atau direfer.
3.      Struktur
Pertanyaan selanjutnya adalah kondisi-kondisi apa yang akan mempengaruhi relasi antara helper dan helpee. Tujuan dari tahap ini adalah menentukan apakah suatu relasi dapat terus berlanjut serta apa saja syarat-syaratnya.
Agar tujuan itu dapat tercapai, pertanyaan-pertanyaan berikut ini harus dijawab, oleh kedua pihak dalam hubungan itu:
Pertanyaan helper
·        Apakah saya mampu bekerjasama dengan orang ini? (ketrampilan, pengetahuan)
·        Apakah saya mau bekerjasama dengan orang ini? (kenyamanan, kesesuian)
·        Apakah saya dapat memenuhi harapan-harapannya? (dengan memberikan keterampilan dan pengetahuan)
·        Struktur seperti apa yang kita perlukan agar hubungan dapat terus berlangsung? (perngertian informal, konseling kontrak, membiarkan masalah itu terbuka)
·        Apa yang saya harapkan dari orang ini? (waktu, tempat, usaha, komitmen, tanggung jawab)
Pertanyaan Helpee
·        Apakah orang ini dapat saya percaya?
·        Persyaratan yang saya berikan?
·        Apakah persyaratan-persyaratan itu?
·        Apakah relasi ini akan membuat saya lebih terlibat dari yang saya inginkan?
·        Apakah saya mau melakukan relasi sesuai dengan persyaratan dari pihaknya atau apakah kita akan mengerjakannya bersama.
·        Jika saya menyetujui kontrak untuk melakukan suatu hal apakah saya dapat “Keluar” jika saya mau?
Tahap ketiga memiliki struktru yang kompleks dan formal. Walaupun begitu suatu relasi menolong biasanya merupakan relasi informal dimana salah satu pihak dapat saja keluar dari hubungan itu kapan saja dengan mudah. Tidak ada komitmen yang tegas diantara kedua pihak itu, seperti hubungan antara teman. Misalnya orang-orang yang bekerja di pusat-pusat krisis. Mereka tidak berniat untuk membangun suatu relasi. Tugas menyelesaikan krisis yang ada.
Pertanyaan-pertanyaan diatas dikerjakan jika sudah adanya indikasi terbinanya suatu relasi. Helper yang bekerja sering mempunyai kebutuhan dan komitmen yang tinggi tetapi mereka tetap mempertahankan hubungan tertutup informal dengan helpee. Karena itu pada umumnya helper melakukan suatu proses yang disebut Strukturing.
Procedure Structuring
Structuring menjelaskan sifat, batasan, dan tujuan dari suatu helping relationship. Selama berlansungnya proses ini, peran, tanggung jawab, dan kemungkinan-kemungkinan komitmen dari helper dan helpee diperhatikan.
Secara umum, helper menjelaskan tentang langkah-langkah untuk mencapai tujuan helpee sehingga kedua pihak mempunyai kejelasan tentang arah kemana mereka akan menuju dan berapa lama tujuan itu tercapai. Tetapi bukan berarti bahwa proses tersebut terencana dan dapat diramalkan. Proses ini hanya merupakan gambaran kasar tentang prinsip dan cara bagaimana terjadinya relasi tersebut. Helpee harus mengetahui dimana mereka berada, siapa helper, alasan mereka berada disana (tujuan dari interview).
Stukturing tidak perlu didiskusikan secara formal. Helper harus mengembangkan gayanya tersendiri dan mereka harus fleksibel dalam beradaptasi terhadap keadaan yang berbeda pada setiap helpee. Yang terpenting adalah perhatian tersebut dipusatkan kepada mengapa suatu “helping relationship” khusus ini terjalin. Kurangnya “structuring” dapat menyebabkan terjadinya kecemasan dalam diri klien karena relasi yang terbina terlalu ambigu. Dilain pihak proses “structuring” kecemasan yang tinggi dan kebutuhan rasa aman dari helpee.
Keuntungan dilakukannya proses ini adalah “waktu” yang akan dihabiskan akan jelas. Baik waktu interview pertama, dan keseluruhan proses. Faktor biaya harus dirundingkan pada tahap ini.
Action limits dapat dirundingkan ketika suatu peristiwa terjadi. Contohnya, jika helpee adalah seorang anak kecil, harus dijelaskan bahwa mereka boleh menyerang mainan atau apa saja, tetapi tidak dapat menyerang orang yang ada. Role limits biasanya dirundingkan pada tahap awal karena peran mungkin bertentangan. Misalnya seorang guru yang menjadi helper, tetapi juga melakukan pla otoritas terhadap muridnya. Peran yang bertentangan ini hendaknya jelas bagi helpee. Bila helper seorang yagn professional, tidak produktif untuk mendiskusikan hal-hal khusus tentang perbedaan dan persamaan diantara profesi “menolong”, keculai jika terjadi kesalahpahaman.
Proses Struktur
            Agar proses menolong terjadi secara efisien dan konstruktif, helpee harus bertanggung jawab dalam proses interview. Dan mereka harus mampu mengekspresikan diri mereka sedemikan rupa sehingga helper dapat bekerja secara efektif.
            Secara singkat, mereka harus belajar menjadi “good helpees” yang harus diperhatikan adalah apa yang dirasakan sekarang merupakan data penting untuk diungkapkan, berbicara tentang diri sendiri secara bebas dan jujur adalah suatu hal yang diharapkan dan diterima. Bertanggung jawab atas pilihan dan tindakan yang dilakukan adalah hal yang penting, dan menyadari tetapi akan menjadi lebih spesifik dan jelas dengan berkembangnya wawancara. Proses ini berkembang sejalan dengan berkembangnya proses wawancara itu sendiri. Norma-norma yang berlaku dalam proses ini tergantung dari pandangan teoritis yang digunakan helper dimana dalam proses ini helper herus mencoba dan mengembangkan gayanya tersendiri.
4.      Kontrak Formal
            Kontrak adalah suatu persetujuan diantara helper dan helpee, dalam rangka pencapaian suatu tujuan, dimana baik helper maupun helpee akan mempunyai tanggung jawab tertentu dalam usaha mencapai tujuan tersebut, dan akan didapatkan suatu hasil sebagai bukti bahwa proses menolong itu telah berhasil.
            Relasi ditujukan untuk menambah tingkat kedalaman dan intensitas kepercayaan helpee terhadap helper.
            Hal ini dipahami agar diantara helper dan helpee terjadi suatu relasi yang saling menguntungkan bagi kedua belah pihak. Pada tahap satu sampai tiga, biasanya merupakan kontrak pertama untuk mengetahui kehidupan helpee, tentang apa yang akan terjadi selanjutnya dan apa yang akan menjadi harapan helpee pada relasi berikutnya. Tahapan ini berguna untuk menambah kepercayaan dan keterbukaan helpee, sehingga relasi yang terjadi lebih mendalam seperti yang terjadi pada tahap satu.
Diam
            “Diam” dapat terjadi dalam semua tahapan, tetapi hal ini lebih berarti dalam tahap relasi dan eksplorasi. Diam bisa berarti helpee mengendalikan dimana helpee mungkin menghentikan pembicaraannya sebagai reaksi perlawanan karena merasa tidak senang mengenai hal-hal selanjutnya. Tingkat kepercayaan helpee mungkin tidak begitu kuat. Hal ini bisa diperlihatkan dengan kecanggungannya, gelisah atau mengubah topik secara tiba-tiba. Jika hal ini benar sebaiknya tujuan dari relasi antara helper dan helpee didiskusikan kembali.
            Jeda atau diam mungkin diartikan oleh helpee sebagai istirahat dalam melakukan eksplorasi. Helpee biasanya bingung dengan pikirannya dan kadang-kadang sedih, terutama disebabkan mereka merasa keinginannya untuk melanjutkan dihambat. Mereka mungkin membutuhkan ketenangan untuk mengumpulkan perasaannya sebelum diungkapkan.
Jeda mungkin berarti juga tidak mempunyai sesuatu yang dipikirkan atau sesuatu untuk dibicarakan. Interview dengan diam tampak seperti percakapan biasa. helpee dan helper diarahkan pada topik baru. Sebagai contoh helpee mungkin menyebutkan beberapa benda dalam pikirannya dan helper tanggap dengan melakukan diam atau tertarik pada satu hal dan selanjutnya mulai dengan topik baru. Ketertarikan helper memberi semangat kepada helpee untuk mengungkapkan topik baru selanjutnya. Helper harus mengerti beberapa kemungkinan berasal dari pilihan helpee. Biasanya hal ini melibatkan atensi helper dan helpee.

Fase II Memperlancar Tindakan Positif

5.      Eksplorasi
Pada tahap ini helper menjadi lebih aktif dan tegas dalam memberikan kejelasan dan menyusun cara-cara untuk bisa memahami helpee dalam memandang diri dan dunianya.
Kalau pada tahap-tahap sebelumnya helper selalu mendengarkan untuk memahami helpee dan mengatur relasi selanjutnya, maka dalam tahap ini mulai dilakukan intervensi. Istilah ini biasanya digunakan pada pertolongan formal dengan menggunakan teknik inisiatif helper.
Adanya tahap ini membuat helper dapat memahami diri helpee secara lebih jelas apa yang diinginkan dan pertolongan bagaimana yang bisa diberikan.
Dalam tahap eksplorasi ini terdapat dua bertanyaan kunci:
·        Apa yang berubah dari tingkah laku helpee yang tidak wajar dan apa yang dibutuhkannya untuk mencapai tujuannya.
·        Strategi apa yang akan digunakan dalam rangka mengadakan intervensi terhadap tingkah laku helpee.
Apa yang dilakukan pada tahap ini adalah merangkum berbagai macam problem yang dibawa helpee, apakah soal perencanaan, problem solving, interpersonal conflict, atau masalah interpersonal feeling.
Tujuan khusus dari helper pada proses pada tahap eksplorasi adalah sebagai berikut:
-          Memelihara dan mempertahankan relasi
-          Membagi perasaan helper dan helpee jangan terintervensi untuk mencapai tujuan
-          Memberi semangat kepada helpee untuk mengungkapkan masalah dan perasaannya sehingga helpee menjadi sadar
-          Member semangat kepada helpee untuk menjelaskan tujuan khususnya
-          Mengumpulkan fakta yang dapat membantu pemecahan masalah
-          Memutuskan untuk melanjutkan atau membatasi relasi
-          Ahli dalam membimbing untuk mencapai tujuan helpee (demostrasi, model, latihan)
-          Mengaktifkan helpee untuk mencapai tujuan (evaluasi, kemajuan, try out)
Dalam tahap eksplorasi cenderung terjadi perubahan dalam sikap helpee ketika menggambarkan perasaan dan masalahnya, kecenderungan ini memungkinkan tetapi helpee harus memahami bahwa mengungkapkan perasaan dan masalah merupakan tindakan pendahuluan sebagai tindakan konsolidasi dan perencanaan. Disini helpee keluar dari dirinya terhadap kesadaran mereka dan mencari masukan untuk rencana tindakan. Fase ini merupakan masa kritis dalam relasi menolong.
Titik kritis lainnya adalah helpee dihambat dalam mengungkapkan pengalaman perasaannya. Poin yang perlu diperhatikan adalah sebagai berikut:
-          Kurangi intensitas eksplorasi pada satu masalah
-          Lanjutkan eksplorasi perasaan lebih mendalam
-          Batasi eksplorasi helper dan pertimbangkan kembali relasi dengan yang lainnya.
Masalah lain adalah bagaimana penerimaan helpee seharusnya. Dalam tahap awal helper biasanya kurang begitu proaktif dan member semangat kepada helpee untuk mengungkapkan inisiatif mereka sendiri.
Transference and countertrasference feeling
            Sebagai akibat dari relasi pada tahap ini, biasanya timbul gejala transference dan countertranference. Transference timbul pada diri helpee yang memandang helper sebagai seseorang yang pernah muncul dalam rangkian hidupnya, antara lain dengan menyamakan helper dengan ayahnya, denga sifat-sifat atau perlakuan tertentu yang pernah dialaminya semasa kecilnya. Dalam hal ini helpee memperlakukan helper sama dengan ayahnya itu. Misalnya bila sang ayah bersifat menguasai, maka helper akan dianggap sebagai penguasa.
Lawan dari gejala ini adalah countertransference, yang timbul dari dalam diri yang memandang helpee sebagai seseorang yang pernah muncul dalam hidupnya. Dalam kasus ini, misalnya helper memandang helpee sebagai anaknya yang nakal dan sebagai akibatnya ia akan memperlakukan helpee tersebut sebagaimana ia memandangnya.
Gejala ini kadang-kadang menghambat kemajuan dalam relasi menolong. Oleh karenanya apabila helper telah menyadari adanya gejala tersebut dan meramalkan masalah yang akan ditimbulkan nya maka ia harus segera membicarakan maslaah itu secara terbuka dan jujur dengan pihak helpee. Tindakan ini akan membantu Susana relasi kembali positif.
6.      Konsolidari
Tahap ini merupakan tahap penyela antara tahap eksplorasi dengan tahap perencanaan. Dalam tahap ini helpee meresapi semua hasil relasi pada tahap-tahap yang telah berlangsung sebelumnya serta merampungkan pemikiran tentang diri, perasaan dan masalah-masalahnya untuk kemudian bersiap-siap membuat perencanaan tindakan yang akan dilakukan.
Pada tahap ini helpee harus memutuskan untuk bertindak atau berhenti membicarakan masalah mereka atau mercanakan berbagai kemungkinan yang akan dilakukan mereka. Tahap konsolidasi ini mengalir berdasarkan hasil dari eksplorasi dan berpadu dengan tahap perencanaan berikutnya yang mempunyai proses tujuan yang berbeda dalam menjelaskan perasaan serta kemampuan praktis yang baru.
7.      Perencanaan
Tahap ini diberikan dengan proses perencanaan rasional dimana perencanaan itu diakhiri atau dilanjutkan dengan kemauan sendiri. Tujuan proses ini adalah untuk memfokuskan diskusi pada tahap awal kedalam rencana yang spesifik kemudian memutuskan bahwa proses petumbuhan masalah dalam relasi yang dan ketika diakhiri seharusnya dinyatakan.
8.      Penutup
Dalam tahap ini dirangkum penyelesaian proses-proses yang telah dicapai. Biasanya kedua belah pihak mendiskusikan dan menilai hal-hal yang telah dicapai dalam tahap-tahap sebelumnya dengan mempertimbangkan tujuan apa yang telah dicapai.
Relasi yang ada dapat diakhiri dalam berbagai cara dan helper harus mengembangkan teknik individualnya. Proses yang dianggap helfull adalah dengan menanyakan pada helpee yang kemudian dirangkum. Bila sebuah perencanaan dibuat akan diputuskan, rangkuman tulisan dikembangkan untuk membantu helpee.
Biasanya ingin meninggalkan relasi yang telah terjalin tersebut sejak mereka merasa baik dengan otonomi yang baik, rencana-rencana serta solusinya. Adakalanya mereka menyembunyikan perasaan bencinya yang biasanya diproyeksikan pada helper untuk dibantu dalam keadaan awalnya.
Rasa terima kasih kadang-kadang diungkapkan, akan tetapi sebaiknya helper berhati-hati karena tujuannya adalah untuk membantu masalah helpee sendiri. Helpee berterima kasih karena helper telah meningkatkan rasa percaya dirinya. Kadang-kadang masih memiliki ketergantungan untuk mengekspresikan perasaannya.

Tidak ada komentar: