Members Links (Text only)

Minggu, 30 Januari 2011

KARAKTERISTIK HELPERS

Mengapa “Helping” efektif dalam membantu individu perlu berkembang?
            Efektif helping perlu dikembangkan agar dapat diusahakan perkembangan positif helpee. Dengan demikian, kualitas personal helper sama pentingnya dengan metoda yang digunakan dalam proses helping.
            Dalam bab ini akan dijelaskan beberapa hal penting yang menyangkut karakteristik helper :
1.      Menerangkan hasil beberapa penelitian tentang karakteristik helper;
2.      Membuat daftar dan gambar enam karakteristik umum dari helper dan lima kondisi trait helper secara individual yang memudahkan;
3.      Menggambarkan lima level dari pemfungsian helper
4.      Menggambarkan hubungan antara gaya interview helper dan gaya hidup helper;
5.      Motivasi sebagai seorang helper.
Comb dkk. Mengadakan studi yang menggambarkan bahwa para helper dipandang lebih mampu menyelesaikan masalah dan mengelola hidup mereka. Selain itu juga dipandang sebagai orang yang dapat dijadikan tempat bergantung, bersahabat dan seseorang yang berjasa.
Roger (1961) menyimpulkan berdasarkan pengalaman dan penelitian ulang bahwa teori dan metoda mengenai helper kurang lebih diperlukan untuk efektivitas dalam relasi helping daripada bagaimana sikap helper. Yaitu bagaimana helpee memandang sikap helper yang akan membedakan efektivitasnya. Hasil penelitian memperlihatkan bahwa individu yang siap untuk menolong harus seorang yang menarik, bersahabat, seorang yang dapat membuat tenang dan seseorang yang memberikan tanggapan mengenai nilai yang dianut oleh helpee. Orang yang dianggap sebagai helper, memberikan rasa percaya diri dan kepercayaan terhadap helpee.

Level (Taraf) dan Gaya Pemfungsian Helping

Pertimbangan terpenting adalah taraf pemfungsian dalam relasi helping. Carkhuff dan Berenson (1967), menjabarkan lima taraf dari pemfungsian untuk enam dimensi interview.
·        Taraf (level) tiga dimensi empati, berhubungan dengan tingkat minimal dalam memberikan respons agar efektif. Empati merupakan kualitas dasar dari bagaimana helper menempatkan diri terhadap diri helpee, bahkan bagaimana helper merasakan pengalaman perasaan helpee.
·        Taraf 2, memberikan empati yang lebih sedikit dan fungsi dari helpee dalam taraf yang lebih rendah.
·        Taraf 1, tidak ada empati.
·        Taraf 4 dan 5, empati dalam taraf yang tinggi.
Pemberian taraf/level yang tinggi tergantung pada kemampuan helper untuk mengekspresikan ide-idenya secara akurat, mengidentifikasi perasaan helpee dengan benar dan mampu berkomunikasi dengan jelas. Penghormatan atau penghargaan, ketulusan hati, kekonkritan, dan kehangatan, dapat diskalakan dari taraf 5 yang tertinggi sampai dengan taraf 1 yang terendah.
Carkhuff dkk. (1969) memberikan bukti yang meyakinkan bahwa jika helper berfungsi pada taraf yang tinggi dalam memberikan penghargaan terhadap kondisi pendukung yang penting, maka perubahan akan terjadi dalam diri helpee. Sebaliknya, apabila proses helping dilakukan pada taraf yang rendah dapat memberikan konsekuensi yang buruk pada helpee dan helpee berada pada taraf yang sama maka perubahan tidak akan terjadi.
Karakteristik dari helper dapat dibuat dalam skala. Dibawah ini terdapat skala mengenai karakteristik helper.
1.      Taraf / level 5
Secara konsisten berpengaruh terhadap proses helping. Kualiatas respon helper secara konsisten berada pada taraf tinggi.
2.      Taraf 4
Memberikan pengaruh terbesar dalam proses helping. Kualitas respon helper sebesar 75% dari keseluruhan waktu.
3.      Taraf 3
Karakteristik helping yang diberikan minimum dan tidak menentu, sedikitnya setengah dari keseluruhan waktu. 50% content analisa, dan 50% perasaan.
4.      Taraf 2
Terdapat beberapa karakteristik dari helper, sedikitnya 10% dari keseluruhan waktu. Masuk kemasalah content, perasaan helpee belum dirasakan oleh helper. Kualitas respon helper rendah.
5.      Taraf 1
Helper belum menggunakan karakteristiknya sebagai helper, tetapi lebih menekankan bagaimana membina rapport yang baik. (entry point awal)
            Sebenarnya akan mudah apabila kita dapat menghubungkan karakteristik pendukung dengan metoda khusus yang digunakan helper, tetapi kondisi ini tidak mungkin dilakukan pada tingkat pengetahuan saat ini, khususnya karena terdapat variasi dlaam gaya di antara helper sendiri. Karakteristik pendukung lainnya, yang didapatkan dari studi jangka panjang, adalah perwujudan yang luas dari gaya dan teori tentang helping. Hasilnya adalah mereka memiliki aplikasi tersendiri dalam relasi helping. Misalnya Rogers yang menekankan pentingnya sumbangan yang diberikan oleh trait helper sevara individual terhadap proses helping. Sedangkan ahli lain, yang mendasarkan terhadap perubahan tingkah laku, menekankan pada metoda dalam mengubah lingkungan dari pada sikap dari helper, meskipun kebanyakan menekankan pada sikap dan teknologi perubahan tingkah laku.

Proses Helping dan Gaya Hidup Helper

            Kondisi pendukung dari proses helping adalah gaya hidup dari helper. Kondisi-kondisi ini bukan merupakan suatu gaya yang dianggap trait, tetapi karakteristik dari gaya hidup mereka diluar relasi helping. Jika mereka tidak hidup dalam kondisi yang dibuat-buat dan tidak tepat. Kehidupan seorang helper harus direncanakan dalam tindakan yang memuaskan dan hidup berdasarkan nilai-nilai ideal mengenai aktivitas dan seseorang yang mampu mengaktualisasikan diri. Untuk menambah keadaan ini, seorang helper harus memberikan perhatian terhadap pembaharuan dan perubahan hidup, yang secara periodik memperngaruhi tujuan hidup mereka, nilai-nilai pribadi yang dianut, mengatur tujuan baru, dan menentukan sumber-sumber energi yang baru. Untuk menghindari keadaan yang ketinggalan jaman, helper yang professional harus terus mengembangkan konsep dan metoda dari proses helping. Para helper membutuhkan pengalaman yang baru yang akan membantu kontak perhatian adalah meningkatnya angka kelahiran, penurunan tingkat kesejahteraan, kurang percara diri, dan perasaan yang tidak enak yang bersifat umum. Sejalan dengan perkembangan dari proses helper, para helper harus menemukan cara-cara baru untuk membatu relasi dari proses helping.

Penyesuaian Helper dan Helpee

            Meskipun penelitian mengenai karakteristik helper, trait dari helpee dan metoda helping telah dilakukan, namun hal ini belum dilakukan dalam interaksi yang nyata antara helper dan helpee. Bukti-bukti yang berkembang dari penelitian mendorong akal sehat kita untuk melakukan observasi bahwa adanya kesesuaian antara kepribadian helper dan helpee merupakan faktor penentu terjadinya relasi yang baik.
            Misalnya, helper tipe A dan tipe B diidentifikasikan mempunyai pengaruh yang berbeda terhadap para helpee  (Whitehorn dan Betz 1960, Carson 1967). Helper tipe A banyak melakukan approach dan tertarik terhadap hal-hal yang berhubungan dangan perasaan, sedangkan helper B lebih sedikit dalam approach dan lebih berorientasi secara kognitif. Relasi helping dari tipe A dicirikan dalam memberikan kepercayaan yang besar dan helpee akan dapat didekati dalam hubungan personal yang aktif dibandingkan tipe B. Di masa yang akan datang bukan tidak mungkin memasangkan metoda yang digunakan dari gaya helper dengan kebutuhan yang spesifik dari helpee, sehingga hasil yang maximal akan dicapai.

Kepribadian Helper

Secara menyeluruh, tidak ada penggolongan trait khusus yang menggambarkan helper yang efektif, namun hasil penelitian menunjukkan sejumlah indikasi kuat mengenai kondisi yang memudahkan perubahan konstruktif pada helpee (Carkhuff 1969, Combs 1969, Roger 1961).
            Sebenarnya kepribadian kita memiliki perangkat dasar yang berguna dalam proses helping (Combs 1969). Istilah yang digunakan adalah self an instrument yang menandakan bahwa diri kita beraksi spontan terhadap, perubahan yang cepat dalam berelasi dengan orang lain, yang menuntut hubungan saling menolong.
            Berikut ini akan dijelaskan mengenai karakteristik penolong yang menjadi dasar hubungan tersebut yaitu :
1.      Kesadaran diri dan nilai
Seorang helper harus menyadari benar mengenai diri dan batas kemampuannya. Hal ini penting untuk menghindarkan adanya proyeksi penilaian dari penolong dan orang yang membutuhkan pertolongan. Jadi, salah satu karakteristik yang penting adalah mencoba menunda penilaian pada orang lain.
Seringkali helper akan mengalami kesulitan bila nilai yang dimilikinya bertentangan dengan masalah yang diajukan helpee, agar helper tetap dapat menghindari diri dan nilai-nilai yang dianutnya, maka ia dapat memperluas kesadarannya dengan mengadakan refleksi dan meditasi sendiri atau membahas bersama helper lain dalam suatu pertemuan khusus.
2.      Kemampuan untuk menganalisa perasaan-perasaan sendiri.
Observasi-observasi dari para ahli helping mengingatkan bahwa seseorang mempunyai kebutuhan menjadi “dingin”, dilepaskan dari perasaan-perasaan seseorang. Ketika pertolongan yang efektif diikuti dengan kesadaran dan kontrol dari perasaan-perasaan seseorang untuk mencegah proyeksi dari kebutuhan-kebutuhannya. Seperti yang telah diuraikan diatas, kita seharusnya menyadari bahwa helper-helper juga merasakan sepanjang waktu. Sebagai contoh, mereka merasa gembira dengan perkembangan helpee kearah kebebasan. Serupa dengan hal itu, mereka merasa kecewa ketika harapan-harapan mereka mengenai perkembangan helpee gagal. Mereka (helper-helper) merasa rendah diri ketika saran mereka untuk menolong ternyata dipandang rendah oleh helpee. Oleh karena itu, mengetahui alasan-alasan mengapa helpee menolak saran tingkah laku tersebut, akan memberikan kenyamanan. Tapi pada kenyataannya helper-helper cenderung berespon terhadap perasaan-perasaan kecewanya pada orang lain yang tidak menghargai usaha-usaha mereka.
Adalah penting untuk meningkatkan perasaan percaya diri helper, sehingga kelihatan terjadi suatu keseimbangan yang baik antara sikapnya yang mengetahui semua hal dalam bidang keahliannya, dengan sikap rendah hatinya yang mengatakan, “saya tidak mempunyai kecakapan dan ketrampilan khusus”. Apakah saya sadar, sebagai contoh, kecenderungan saya untuk merendahkan diri sendiri sebagai seorang helper disalah satu sisi, atau kecenderungan untuk bertindak sebagai seorang “guru”, yaitu seorang yang mempunyai jawaban-jawaban, disisi lainnya? Lebih jauh lagi, mengapa saya membutuhkan menciptakan suatu hal yang mistik mengenai diri saya sendiri, yang akan meningkatkan keseganan dan ketergantungan helpee? Salah satu dari fenomena yang menarik tentang interaksi manusia adalah efek kharismatik. Beberapa orang ternyata harus memperkuat energi auranya untuk mempengaruhi orang lain agar mendatanginya. Dimana beberapa akibat dari hal tersebut kemungkinan adalah adanya efek dari placebo, yang berarti bahwa melalui kekuatan mempengaruhi, usaha-usaha helper atau posisinya sebagai pihak otoriter membawa hasil-hasil, dan tidak menjadi masalah apa yang mereka kerjakan. Weissberg (1977). Setelah menyelediki jawaban-jawaban dari pertanyaan-pertanyaan, mengapa yang dilakukan adalah menasehati? Dimana disimpulkan bahwa hal tersebut memberikan efek “mengganggu”, karena hal tersebut berarti ia (helper) secara aktif dan menantang, intervensi-intervensi yang dilakukan oleh helper yang mana menggerakkan helpee kedalam tindakan-tindakan membangun untuk memecah problem-problem meraka. Sebagai ilustrasi, aktivitas-aktivitas seperti pemberian saran secara otoriter, penekanan pada tugas-tugas rumah, dan desakan pada helpee yang tidak mengenal belas kasihan.
Helper-helper harus belajar untuk lebih efektif ketika dihadapkan kepada kebingungan dan konflik-konflik nilai yang mereka alami. Kapan ketegasan diri dan ekspresi kebebasan penting, serta kapan menyeragamkan dan menyesuaikan tingkahlaku-tingkahlaku yang demikian? Helper sering didapati dalam keinginannya antara kekurangan memerdekakan dari ketergantungan dengan kebutuhan-kebutuan sosialnya yang akan menghukum penyimpangan-penyimpangan yang mendorongnya untuk seragam dan berusaha menghalau pemberontakan-pemberontakan. Helper-helper hidup dengan adanya konflik dasar manusia ini dalam diri mereka dan helpee-helpee mereka.
Perasaan-perasaan berkuasa atas helpee-helpee akan muncul tanpa diharapkan sama sekali. Jika helper-helper tidak berhati-hati mereka dapat terperangkap dalam pengontrolan perasaan-perasaan yang puas dengan diri mereka sendiri, ketika helpee-helpee menganggap helper mereka mempunyai perngaruh yang besar bagi diri mereka.
Sebagai tambahan untuk kekuatan personal, helper mungkin merasa penting menyadari dimensi-dimensi penyembunyian kekuatan dalam institusi-institusi. Sebagai contoh, agen-agen pemerintah, terutama mempunyai tanggung jawab pengaturan tertentu atau mempunyai kepercayaan yang sah untuk menawarkan pelayanan-pelayanan dibawah kondisi tertentu. Helper-helper, seperti agen-agen tersebut, harus berhati-hati dalam mengidentifikasikan diri dengan kekuatan agen. Seringkali pelayanan-pelayaan pertolongannya ditujukan untuk mendukung kekuatan organisasi sehingga hasilnya mungkin lebih ditekankan pada penyesuaian diri atau pengamanan diri, dari pada ditekankan pengaktualisasian dan pembebasan. Sebagai contoh, dalam setting sekolah, kemungkinan suatu anggota staff penolong menggunakan manajemen sampingan dan mendukung kekuatan sekolah dari pada memfokuskan pada aktivitas seperti yang disarankan pada BAB 1, yaitu memperhatikan pengukuran motivasi-motivasi untuk menolong.
Helper yang professional menyebut perasaan-perasaan bawah sadar terhadap helpee ini sebagai “countertransferance effect”, yaitu pengekspresian kebutuhan-kebutuhan helper dalam tingkah lakunya, seperti mendominasi, overprotecting, mencintai, menyenangi, membujuk, atau memanipulasi helpee. Perasaan-perasaan ini merupakan transfer relasi helper dengan orang yang signifikan baginya dimasa lalu kedalam hubungan yang ada saat ini.
Agar tidak terjadi tingkah laku-tingkah laku tersebut, maka helper harus menyadari kecenderungan untuk mentrasfer kebutuhan-kebutuhan, masalah-masalah, dan perasaan-perasaannya kepada helpee. Kesadaran ini terutama diperoleh melalui umpan balik mengenai tingkah laku helper dalam pengalaman konseling individual dan kelompok. Dengan demikan, helper perlu memiliki kehidupan personal yang baik, dimana ia dapat saja merasa kecewa, frustasi, dan berkonfrontasi dalam hubungan-hubungan “helping”, tapi tidak memproyeksikan hal-hal tersebut pada helpee atau tidak mengembangkan gejala-gejala personal, seperti, depresi, withdrawl, atau keluhan-keluhan fisik. Seorang helper harus memiliki ego yang kuat, yang berarti memiliki keyakinan terhadap penilaian diri nya sendiri sebagai “person”. Proteksi terhadap kondisi-kondisi kegagalan diri helper kadang-kadang dapat ditemukan dalam relasi konseling dari dalam pemuasan  kehidupan personal untuk perbaikan diri yang continue. “Helping” menuntut keaktifan secara emosional, bahkan ketika dilakukan secara informal, dalam beberap ketentuan harus dibuat bagi helper untuk “ merecharge batre mereka.”
3.      Kemampuan untuk menjadi model dan orang yang memberikan perngaruh
Helper berfungsi sebagai model dan pemberian pengaruh sosial pada helpee, baiik diinginkan ataupun tidak. Sejumlah literature penelitian menunjukkan bahwa kekuatan model dalam kekuatannya dalam tingkah laku maladaptive (Sarason dan Ganzer, 1971). Bagaimana hal ini controversial, apakah helper harus memberikan model kebaikan, kematangan, dan keefektifan kehidupan personal mereka.  Terdapat dua reaksi terhadap masalah ini. yang pertama, helper harus memenuhi kehiduapan mereka atau akan cenderung untuk sering menggunakan relasi “helping” ini demi pemuasan kebutuhan-kebutuhan yang tidak terpenuhi. Reaksi yang kedua  kredibilitas helper dapat dipertanyaan jika helper tersebut memimiliki kehidupan personal yang kacau balau.
Standar terakhir untuk menilai kecocokan tingkahlaku helper adalah penilaian helpee terhadap manfaat helper.
Merupakan hal yang penting bagi helper untuk bertingkah laku sebagai helper yang ahli didepan helpee. Schmitd dan Strong 1970 mempelajari tingkahlaku-tingkahlaku “ahli” dan “tidak ahli” dari sudut pandang helpee. Helper dipersepsikan “ahli” karena mereka berbicara dengan keyakinan diri. Helper “ahli” mempersiapkan dahulu pengetahuan tentang helpee mereka, latar belakang mereka, dan alasan mereka datang sehingga helper dapat langsung mengenali inti masalahnya. Yang dipersepesikan “tidak ahli” adalah helper yang tegang, ketakutan, bertele-tele dan tidak pasti, serta mengkomunikasikan hal-hal yang tidak menarik dan membosankan. Karena mereka antusias dalam mendengarkan helpee, maka walaupun kurang ahli dan kurang professional mereka sering dipersepsikan “ahli” oleh observer. Oleh karena itu untuk memberikan pengaruh pada helpee, helper harus mempertimbangkan bagaimana mereka dipersepsikan oleh helpee mereka dan jenis model mana yang akan ditampilkan.
Ivey (1977) dan Egan (1975) melihat bahwa teori pengaruh sosial sebagai dasar bagi proses “helping”. Dalam artikel provokatif mengenai terapi sebagai manipulasi, Gilis (1974) membuat kasus yang kuat mengenai kesuksesan “helping” formal yang berhubungan erat dengan pengaruh dan asertivitas helper.
4.      Altruism atau sifat mementingkan orang lain
Sebuah pertanyaan vital kepada helper yaitu, mengapa ia ingin menolong orang lain? Hal ini telah dijelaskan diawal bahwa helper juga mempunyai kebutuhan dan mereka mengharap kepuasan dalam memelihara tingkah laku menolong mereka. Tidak terlalu produktif mengikut sertakan self probing yang eksistensif tentang mengapa seseorang ingin menolong orang lain, tapi perlu untuk kesadaran bahwa seseorang bertingkah laku untuk selfnya sama baiknya untuk nilai yang diambil untuk helpee. Kenyataan memperlihatkan bahwa helper yang efektif sangat tertarik pada orang lain. Studi Combs (1969) tentang helper yang efektif menyebutkan bahwa nilai utamanya adalah perhatian mereka terhadap orang lain lebih besar dari pada terhadap benda dan sikap orang lain lebih berarti dibandingkan memfokuskan terhadap diri mereka sendiri.
Jika ditanya mengapa mereka menolong orang lain, mereka akan menjawab dengan pernyataan soleh, yaitu karena rasa kemanusiaan dan kebajikan. Namun, sebenarnya ada motivasi lain yaitu karena adanya kebutuhan dan tujuan pribadi dengan cara menolong orang lain. Kebutuhan itu berupa harga diri, status, dan keakraban. Selain itu juga karena adanya pengalaman terhadap penderitaan serta kepuasan yang didapatkannya dalam relasi helping.
Interpersonal attraction adalah suatu prinsip operasional pada beberapa studi helping. Helping secara umum sering timbul dari kekuatan sosial dan perubahan motif. Self interest kolektif dan harapan untuk mempertahankan diri sebagai suatu ras adalah penting sehingga seseorang bisa memberi support pada orang lain. Bila hal ini tidak ada maka akan timbul ancaman kejahatan atau kecelakaan. Masyarakat harus peduli pada kesejahteraan orang lain bila ingin survive. Selain itu juga dibutuhkan helper yang aktif dan peduli pada perubahan kondisi sosial untuk memenuhi kebutuhan kesejahteraan manusia dari pada helper yang melakukan tindakan menolong secara indurance untuk mengatasi tuntutan dari sebuah masyarakat sakit.
5.      Strong Sense Of Ethics
Jika seseorang mempercayakan kepada helper informasi tentang dirinya, maka helper tidak boleh membicarakannya kepada orang lain. Helper harus menjaga keserjahteraan helpee. Helper harus menjadikan informasi yang diberikan helpee itu sebagai symbol kepercayaannya. Kelompok-kelompok professional mempunyai kode etik dalam melayani helpee. Kode etik sebagai pedoman bagi helper untuk bertindak sebagai refleksi penilaian umum dalam menghormati hubungan helper-helpee dan responsibilitasnya. Penilaian kunci dari kode etik helper adalah menyediakan berapa frame of referensi untuk memutuskan tentang kesejahteraan klien dan responsibilitas sosialnya.
Poin utama yang ditekankan adalah helper menjadi commited untuk bertingkahlaku sesuai dengan etika yang direfleksikan dalam standar moral mereka, bila cara masyarakat dan norma dari profesi helping.
6.      Responsibility
Dihubungkan dengan tingkah laku etik yaitu berapa besar tanggung jawab mereka untuk diri sendiri dan untuk behavior helpee, yaitu bagaimana mereka dapat mengembangkan keserjahteraan helpee dan harapan sosial. Helpee bisa diserahkan kepada ahli dengan tetap melakukan kontak dengan helpee hingga tanggungjawab itu diambil oleh ahli.
Hubungan helper dan helpee adalah hubungan yang terbuka. Helper mengerahkan semua kemampuannya hingga tanggung jawab diserahkan kepada ahli atau secara suka rela dan resmi mengakhiri hubungan tersebut. Pada pertemuan pertama dijelaskan kepada helpee bahwa fungsi helper hanya membantu memperjelas masalah helpee dan membantu melihat beberapa alternative. Keputusannya harus diambil oleh helpee sendiri. Jika helpee tidak dapat bekerja sama maka helper dapat mencari orang lain dimana helper bisa bekerja lebih efektif.
Tanggung jawab helper untuk memperkirakan tingkah laku helpee sangatlah tidak jelas. Beberapa helper secara ekstrim mengatakan bahwa helpee yang bertanggung jawab terhadap hasil atau konsekuensi dari hubungan tersebut. Namun yang lain tetap mempertahankan sikap, bahwa helper yang bertanggung jawab atas sesuatu yang terjadi dengan helpee akibat relasi tersebut. Beberapa ahli memandang permasalahan ini sebagai pembagian tanggung jawab yang disesuaikan dengan kondisi tertentu dan umur helpee.
Tanggung jawab yang berhubungan dengan pengungkapan data pribadi helpee, pada umumnya mempunyai pengaruh yang sangat kuat juga helpee sering merasa tersinggung, atau kadang-kadang merasa takut untuk mengungkapkan lebih banyak lagi. Untuk itu helper harus mengetahui kapan mencegah helpee membuka rahasianya atau mengekspresikan perasaannya.
7.      Helper sebagai Scholar-Researcher (ilmuan-peneliti)
Helper harus mempunyai beberapa kerangka kerja untuk memberikan bantuan. Ketika mereka mulai bertanya tentang manusia, keefektifan pendekatan yang mereka gunakan dalam membantu, atua validitas helping secara umum, mereka berfikir seperti ahli behavioral. Ketika mereka mengumpulkan data secara sistematis tentang tingkah laku helping, membuat kesimpulan yang valid, hati-hati, mereka bertindak sebagai ahli behavioral.
Untuk meningkatkan ketrampilan mereka, maka helper belajar kembali dengan membaca pengalaman-pengalaman helper lain dan membaca hasil penelitian spesialis lain. Mereka perlu memiliki cara berfikir yang kritis dan kemampuan observasi.
Dengan demikian untuk menjadi helper yang efektif dapat tanpa suatu pendidikan formal lebih lanjut, namun dengan kesadaran akan budaya dan ilmu pengetahuan yang sangat luas. helper harus menjalankan hal ini untuk menghindari kekunoan dan memaksimalkan bantuan mereka.  Pelaksanaannya dengan bentuk mengikuti reading program, menerima feedback dan bekerja dengan tujuan pengembangan personal.
Karena helper mejadi lebih terlibat, maka mereka dalam menolong harus memperhatikan konteks sosial yang ada. Latar belakang sosial helpee akan memperngaruhi cara pandang dan gaya hidup helpee. Memahami latar belakang helpee merupakan dasar untuk empati dan mengerti dalam relasi proses helping.
8.      Helper sebagai growth facilitator
Karakteristik growth facilitator diperlukan dalam penekanan fungsi mendasar helping. Rogers (1957) menjabarkan lima kondisi mendasar dalam interview untuk mengembangkan helpee yang harus dimiliki helper yaitu;
a.       Empati helper
Empati adalah suatu alur perinsip untuk mengerti dan membuat helpee merasa di pahami. Helper berusaha melihat sebagaimana helpee memaknakan dunianya yaitu dari internal freme of referensi mereka. Helper melakukan suatu usaha aktivitas untuk menempatkan diri mereka sendiri dalam internal  perceptual ini tanpa menghilangkan identitas keobjektifan dirinya sendiri, dan melalui pemikiran bersama-sama helpee.
Empati helper dianggap berhasil bila ia dapat menempatkan diri sebagai cerminan diri helpee sehingga dapat menarik alternative yang bermanfaat dalam memahami dan mengatasi persoalannya.
Empati ini diwujudkan melalui kemampuan helper menangkap apa yang dirasakan helpee dan mengkomunikasikannya secara jelas pada helpee.
Combs (1969) mengungkapkan bahwa helper yang efektif mencoba mendengarkan dengan penuh perhatian dan mempertanyakan dalam dirinya;
o   Apa yang dirasakan helpee saat ini.
o   Bagaimana helpee memandang masalahnya
o   Apa yang iya tanggap dalam dunianya.
Menunjukkan bahwa kemampuan mengkomunikasikan empati tidak selalu harus melalui tatap muka langsung, bahkan melalui media telepon lebih efektif.
Namun empty yang berlebihan dapat mengakibatkan klien menjadi individual yang tergantung dan tidak matang.
b.      Kehangatan dan perhatian helper
Lebih menekankan pada kualitas respon emosional heper dan sering diikuti dengan usaha untuk berempati. Kehangatan merupakan suatu kondisi keakraban dan penuh perhatian yang diwujudkan melalui senyuman, kontak mata, dan tingkahlaku nonverbal lainnya. Hal ini merupakan suatu usaha untuk menjaga kenyamanan helpee dan membuat helpee merasa dihargai.
Perhatian pada dasarnya hampir sama dengan kehangatan, namun secara emosional sifatnya lebih tahan lama dan lebih mendalam. Memberikan perhatian juga berarti suatu cara untuk mengatakan “saya menyukai kamu”.
Pada awal abad ini, Freud dan para pengikutnya beranggapan bahwa kehangatan merupakan suatu faktor yang signifikan dalam terapi. Kehangatan akan mengarahkan kepada kedekatan secara psikologis dan akan mengurangi jarak antara helper dan helpee.
Keterampilan menolong meliputi, bagaimana helper menunjukkan perasaan kedekatan, afeksi, dan perhatian pada helpee tanpa diikuti dengan keterlibatan emosional yang terlalu dalam. Selain itu helper juga harus mampu memberikan kehangatan yang sesuai dengan tingkatan yang sedang dijalani. Misalnya diawal pertemuan, intensitas kehangatan harus cukup untuk memulai membina hubungan.
c.       Kerbukaan helper
Tujuan utama dalam memulai sesuatu relasi menolong adalah mendorong helpee untuk mengungkapkan pikiran dan perasaannya secara bebas kepada helper, dengan demikian hubungan yang terjadi harus dilandasi kejujuran.
Menurut Combs (1969) helper yang efektif apabila menggunakan pengungkapan diri dalam membangun suatu hubungan. Yang terpenting adalah kepercayaan dan selanjutnya tergantung pada tingkat dimana helper dan helpee terbuka satu sama lain.
d.      Penghormatan dan penghargaan yang positif
Helper memberikan kebebasan kepada helpee untuk menjadi dirinya sendiri, dengan demikian mereka dihargai sebagai individu.
Dalam proses helping selanjutnya, ketika hubungan telah terjalin, helper mulai mencoba beragam perasaan pada helpee dan menjadi lebih terkendalikan. Helper lebih mengekspresikan sikap persetujuan dan ketidaksetujuan mereka selanjutnya memberikan reinforcement pada tingkah laku tertentu. Tingkah laku spontanitas dan antetik menjadi lebih jelas sejalan dengan dalamnya tingkat kepercayaan pada helpee menjadi lebih terbuka pada feedback jujur dari helper.
Sarana prinsipil untuk mengekspresikan rasa hormat adalah menyesuaikan kata-kata dengan ekspresi non verbal dari kehangatan, penerimaan dari empati helper menunjukkan sikap bahwa pertolongan diberikan dengan kondisi bahwa helpee mengungkapkan perasaan jujur dan berusaha menjadi yang terbaik dalam sudut pandang mereka. Helpee tidak dituntut untuk menyenangkan helper situasi saling menghormati di fasilitasi dengan usaha sadar untuk bebas dari mengontrol atau memanipulasi.
e.       Kekonkretan dan kekhususan helper
Kunci untuk menfasilitasi kondisi untuk komunikasi yang akurat dan jelas dalam helping adalah bahwa helper cenderung lebih spesifik daripada hal umum / tidak jelas. Helper yang efektif tidak hanya membutuhkan kekongkritan, tetapi juga berkonfrontasi dengan helpee tentang kekhususan dan kejelasan. Ketika berhadapan dengan perasaan yang menyakitkan dan tidak dapat diterima. Sebagai contoh, ada kecenderungan untuk menjadi abstrak dan berjalan memutar untuk menghindari konfrontasi langsung dengan perasaan tersebut.  Perasaan menyakitkan cenderung untuk statis dalam hal yang tersamar dan bahasa sukar dipahami pada awalnya. Saat ini helper mungkin berkata misalnya : “ Kamu tampaknya tidak mudah; keanyakan orang tampaknya tidak mudah dalam situasi baru”. Contoh lainnya, “Tolong beri saya contoh spesifik apa yang kamu rasakan saat ini”. strateginya adalah untuk berkonfrontasi dengan helpee dengan perminataan untuk perasaan spesifik dan perasaan mereka saat ini bertahap pada istilah konkrit. Dengan menggunakan kalimat umum seperti kebanyakan orang. “Tata mereka” atau “Seperti kita” memotong referensi individu dlam bentuk “saya rasa” atau “saya pikir bahwa”.
Helper membantu helpee lebih berfokus pada saat ini dari pada masa lalu, atau masa yang akan datang. Memperhatikan atau merasakan melalui pertanyaan dan refleksi. Helper juga menjadi model contoh yang baik dan komunikasi spesifik dengan menggunakan pernyataan “saya” yang jelas, yaitu ia berbicara dalam istilah “saya pikir” atau “saya rasa” dari pada “orang-orang berkata” atau “mereka berfikir bahwa”.
Satu masalah dalam menggunakan dan menekankan ekspersi khusus adalah bahwa mereka cenderung untuk mengurangi spontanitas dan asosiasi bebas dari ekspersi perasaan helpee. Seringkali helpee menyimpang, menutupi area positif secara hati-hati dari permasalahan, ini harus diselesaikan menurut penilaian terbaik dari helper.
Secara tipikal, helper mungkin meyakinkan dan mencontohkan kekhususan dan kekongkritan ekspresi pada awal proses. Kemudian, ketika helpee menjadi lebih ikut serta, helper memperbolehkan mereka lebih bebas untuk mengekspresikan diri dalam gaya bahasa natural mereka akhirnya, ketika proses berkembang pada titik, merencanakan tindakan-tindakan pelatihan khusus dan ketika membutuhkan pendekatan problem solving, penekanan lebih besar bisa diterapkan pada kekhususan dan kekonkritan ekspersi dan aksi.
Karena proses helping sangat tergantung pada komunikasi yang jelas, maka karakteristik kunci harus ada pada seorang penolong yang efektif adalah kompetensi dalam berkomunikasi. Penelitian dalam bidang linguistik dan eksplorasi dalam komunikasi crosscultural, seperti yang dilakukan oleh Bandler dan Grinder (1975) dan Ivey (1983) menegaskan pentingnya hal ini unutk suatu proses helping yang efektif. Bandler dan Grinder, sebagai contoh menjelaskan bagaimana helping menjelaskan kalimat-kalimat helpee, memberikan cara yang lebih baik bagi helpee untuk menceritakan diri mereka, dan mendeskripsikan pikiran-pikiran tentang masalah mereka dengan lebih tajam.
f.        Kompeten dalam berkomunikasi
g.       Intensionalitas
Kemampuan untuk mengarahkan.
Kesimpulan
Sebagaian besar dari kondisi-kondisi yang dijelaskan pada bab ini adalah perluasan dari kualitas yang efektif seorang helper. Penelitian-penelitian yang sesuai dan pengalaman-pengalaman para helper professional menghasilkan suatu keharusan untuk menguji secara kontinu banyak dan tempo dari kondisi-kondisi yang mendukung perkembangan bagi helpee yang istimewa, pada saat-saat tertentu.
            Hal lain yang juga diperhatikan adalah fleksibilitas sebagai helper. Pada saat-saat tertentu ia harus dapat menyelami keadaan diri seseorang secara pribadi, dan pada saat yang lain ia harus dapat menjadi pengamat yang objektif dalam mempelajari proses helping secara hati-hati.
            Helper harus dapat bergerak dengan bebas sepanjang karakteristik-karakteristik yang mendukung itu, sehingga dapat merespon dengan tepat kebutuhan-kebutuhan helpee pada berbagai tingkatan dalam proses helping. Disatu sisi hal ini haruslah merupakan proses intuitif alamiah, di sisi lain diperlukan proses rasional yang teliti untuk menentukan dan menghadapi kebutuhan helpee.
            Bagaimanapun seseorang menjelaskan / menafsirkan proses helping terutama sebagai suatu seni atau suatu ilmu. Helper yang bersungguh-sungguh perlu mengamati secara periodik asumsi-asumsi tentang diri mereka sendiri, helpee mereka dan proses helping yang terjadi.
            Bab ini difokuskan pada helper sebagai manusia dan bagaimana dia menggunakan kemanusiaannya sebagai alat untuk membantu manusia lain (helping tool).

Tidak ada komentar: