Members Links (Text only)

Jumat, 28 Januari 2011

DETEKSI DINI DALAM PERKEMBANGAN

A.  Hambatan Perkembangan Pada Anak
             Hambatan perkembangan adalah gangguan dalam perkembangan anak dan anak mempunyai kesulitan untuk berkembang secara optimal, gangguan ini biasanya terjadi pada salah satu aspek perkembangan sedangkan pada aspek lainnya anak bisa berkembang secara normal, tapi ada juga gangguan yang terjadi pada lebih dari satu aspek perkembangan. 
Agnes(2006) menyebut hambatan perkembangan anak ini dengan Psikopatologi anak. Psikopatologi anak adalah terdapatnya ketidaktepatan perilaku atau performa psikologis yang muncul menyimpang dari perkembangan normal, oleh sebab itu orangtua  harus menyadari hal ini sejak dini.

B.  Faktor Risiko yang Dapat Menyebabkan Hambatan Perkembangan
Arixs (2008) menyebutkan ada dua faktor risiko yang menyebabkan hambatan perkembangan, yaitu :
1.      Faktor risiko biomedik
2.      Faktor risiko lingkungan psikososial atau sosial ekonomi
Faktor risiko biomedik lebih menekankan bahwa hambatan-hambatan perkembangan disebabkan oleh faktor hereditas atau bawaan dari lahir. Misalnya, prematuritas, infeksi, hambatan pertumbuhan dalam kandungan, kelainan bawaan, ibu pengguna obat terlarang, dan sebagainya.
Faktor risiko lingkungan psikososial atau sosial ekonomi menekankan bahwa hambatan perkembangan terjadi karena adanya pengaruh dari luar. Misalnya, kemiskinan, pendidikan orangtua yang rendah, ibu terlalu muda, riwayat perilaku salah dalam keluarga, perceraian, dan sebagainya.

C. Deteksi Dini Perkembangan dan Orang-Orang yang Dapat Melakukan Deteksi Dini
Deteksi dini perkembangan merupakan suatu upaya atau kegiatan pemeriksaan untuk menemukan secara dini adanya penyimpangan tumbuh kembang pada anak.
Deteksi dini ini meliputi bagaimana perkembangan dan pertumbuhan anak, yang mencakup perkembangan fisik, motorik, bahasa, sosialisasi, kemandirian, emosi, kognitif dan moralitas anak.
Agnes (2006) memandang bahwa deteksi dini merupakan ilmu yang penting dipelajari oleh seorang psikolog, sebagaimana dikemukakannya bahwa :

Deteksi Dini Hambatan dalam Perkembangan (DDHP) merupakan ilmu dasar bagi psikolog klinis anak dalam menangani kasus; melakukan asesmen, diagnosa, dan treatment. DDHP merupakan kolaborasi dari psikologi klinis khususnya psikologi abnormal dan perkembangan anak & remaja.

Dari uraian di atas dapat kita simpulkan bahwa psikolog merupakan salah satu ahli yang dapat melakukan deteksi dini dalam perkembangan, psikolog khususnya psikolog anak merupakan ahli yang profesional dalam melakukan deteksi dini pada perkembangan anak karena mereka memiliki mempunyai ilmu-ilmu yang dapat dijadikan acuan. Selain psikolog, ada beberapa tokoh lain yang dapat melakukan deteksi dini, yaitu :
1.      Orang tua
Pemantauan perkembangan anak oleh orangtua bermanfaat untuk identifikasi sebanyak mungkin anak yang dicurigai mempunyai hambatan dalam perkembangan. Orangtua merupakan sumber informasi yang penting dan merupakan orang pertama yang bisa melakukan deteksi dini dengan baik. Hasil penilaian perkembangan oleh orangtua dapat menjadi prediktor keterlambatan perkembangan anak.



2.      Guru
Guru dapat mengamati pola perkembangan anak didik di sekolah, sehingga mereka bisa memberikan informasi tambahan untuk orang tua.
3.      Tenaga kesehatan, misalnya : Dokter, petugas Posyandu, petugas-petugas kesehatan yang ada di puskesmas.
Pemantauan perkembangan oleh tenaga kesehatan  bertujuan untuk deteksi
secara lebih terperinci dan sifatnya lebih kompleks berdasarkan informasi yang telah diberikan orang tua dan guru.

Orang-orang di atas melakukan deteksi sesuai dengan ilmu dan keahlian yang mereka punya.

D.  Alasan Pentingnya Deteksi Dini
Pemantauan perkembangan anak perlu terus dilakukan agar intervensi akan gangguan atau abnormalitas dapat dilakukan sesegera dan setepat mungkin.
Dworkin (2001) dalam diktat mata kuliah deteksi dini dalam perkembangan, mengemukakan beberapa alasan tentang mengapa deteksi dini perlu dilakukan:
1.      Masa kanak-kanak awal memiliki pengaruh kritis pada keberhasilan sekolah di masa berikutnya.
2.      Otak yang belum terdiferensiasi pada anak-anak yang masih kecil masih mudah untuk menerima intervensi.
3.      Kesempatan untuk mencegah masalah sekunder, misalnya masalah pada harga diri dan keyakinan diri.
4.      Memberikan keuntungan-keuntungan :
·         Bagi penyandang cacat fisik dan keterbelakangan mental, bisa meningkatkan fungsi keluarga
·         Bagi lingkungan yang bermasalah, bisa menurunkan kejadian tidak naik kelas, menurunkan tingkat DO dari sekolah.
5.      Memperjelas gambaran pengaruh yang merugikan
Deteksi dini sangat diperlukan untuk meminimalkan hambatan-hambatan perkembangan yang lebih kompleks pada anak. Dengan mengamati dan melakukan pemeriksaan yang rutin pada setiap proses perkembangan anak, kita dapat dengan mudah mengetahui permasalahan apa yang muncul pada perkembangan awal anak yang berpotensi menjadi gangguan-gangguan yang lebih kompleks pada tahap perkembangan selanjutnya. Intervensi yang baik akan mengurangi hambatan pada proses perkembangan.

E.  Hal-Hal yang Perlu Dilakukan dalam Deteksi Dini
Deteksi yang dilakukan sedini mungkin merupakan kunci kesuksesan dalam program penanganan gangguan atau abnormaliatas perkembangan. ”Semakin dini gangguan perkembangan terdeteksi, semakin tinggi pula kemungkinan tercapainya tujuan intervensi atau koreksi atas gangguan yang terjadi” (Aqsyaluddin, 2007).
Hal-hal yang perlu dilakukan dalam deteksi dini, terutama oleh orang tua adalah : 
1.      Mengetahui tugas perkembangan sesuai usia anak. 
Penilaian baik-buruknya perkembangan anak tergantung pada tercapainya tuntutan atau tugas perkembangan sesuai usianya. Mengenali tugas perkembangan sesuai usia anak memungkinkan orangtua mendeteksi dini gangguan perkembangan. 
2.      Mengetahui pola dan kecepatan perkembangan anak. 
Secara universal anak memiliki pola perkembangan yang sama. Namun, anak memiliki kecepatan yang berbeda dari anak-anak lain. Misalnya, seorang anak mungkin mulai berbicara pada usia 14 bulan, tetapi dia belum bisa berjalan tanpa bantuan. Sementara itu, anak lain dengan usia yang sama sudah mampu berjalan sendiri, tapi tidak mengucapkan kata-kata sebaik anak tersebut. Hal yang lebih penting adalah mengenali apakah anak memenuhi pola yang normal meskipun kecepatannya bisa berbeda dengan anak lain.
3.      Memperluas wawasan tentang berbagai jenis gangguan perkembangan dan gejalanya.
Kita dapat memperoleh informasi mengenai jenis gangguan perkembangan dan gejalanya melalui majalah, surat kabar, televisi, diskusi, seminar atau berkonsultasi dengan ahli. Semakin baik pengetahuan orangtua mengenai gejala dan ciri-ciri berbagai gangguan perkembangan, biasanya mereka akan semakin peka jika ciri-ciri serupa muncul pada anak. 
4.      Melakukan pencatatan serta pengamatan terhadap perkembangan anak dan perubahan dalam lingkungannya. 
Melakukan pencatatan dengan rutin dapat memudahkan kita untuk mengetahui bagaimana proses perkembangan anak, sehingga kita dapat dengan mudah apakah ada penyimpangan-penyimpangan yang terjadi dalam proses perkembangan anak.
Hal-hal yang perlu diamati oleh orang tua dalam melakukan pencatatan harus disesuaikan dengan tugas perkembangan pada usianya dan kebiasaan masing-masing anak. 
5.      Mencari informasi jika mencurigai perubahan, kelambatan, atau perilaku yang tampaknya kurang wajar. 
Apabila orang tua menemukan perubahan,  kelambatan, atau perilaku anak yang tampaknya kurang wajar, cari informasi sebanyak mungkin, baik dari pihak lain yang kompeten (dokter, psikolog, terapis) maupun dari sumber media.
 
Orang tua melihat perkembangan anak  setiap hari secara langsung, oleh karena itu mereka harus mempunyai pengetahuan tentang perkembangan anak. Dengan pengetahuan yang dimilikinya itulah orang tua dapat melakukan deteksi dini dalam perkembangan anak, agar anak dapat berkembang secara optimal.
 
F.  Permasalahan yang Ditemukan Dalam Melakukan Deteksi Dini
Dalam diktat kuliah deteksi dini dalam perkembangan, disebutkan beberapa hambatan dalam melakukan deteksi dini, terutama berkaitan dengan :
a.       Siapa (profesi) yang melakukan deteksi dini secara menyeluruh.
Pada saat sekarang, belum ada profesi yang melakukan deteksi pada selruruh aspek perkembangan anak. Profesi ini menekankan pada aspek yang berbeda ketika melakukan deteksi, misalnya para ahli medik lebih menekankan pada aspek fisik dan fisiologis, para ahli psikologi lebih menekankan pada aspek sosial emosional, dan para ahli pendidikan lebih menekankan pada aspek keberhasilan belajar.

b.      Keterbatasan alat screening (alat-alat yang dapat digunakan untuk deteksi dini)
Keterbatasan alat screening terlihat pada :
a.  Seringkali alat screening tidak praktis dan terlalu panjang untuk digunakan secara rutin
b. Isu reliabilitas, adanya ketidak konsistenan dalam hasil tes.
c.  Isu validitas, alat screening yang digunakan tidak tepat mengukur apa yang hendak diukur.
Selain permasalahan di atas terdapat permasalahan lain terutama yang berhubungan dengan faktor keluarga, yaitu :
a.       Kurangnya kesadaran dari orang tua
Tidak adanya keasadaran dari orang tua untuk selalu memantau perkembangan pada anak akan berakibat pada telatnya penanganan akan gangguan.
b.      Keadaan ekonomi keluarga
Golongan ekonomi menengah ke bawah biasanya sulit untuk memantau perkembangan anak-anak mereka. Mahalnya biaya untuk melakukan tes, membuat mereka kurang dapat memantau tumbuh kembang anaknya secara efektif.
c.       Pengetahuan orang tua yang terbatas mengenai perkembangan anak
Orang tua harus memiliki pengetahuan mengenai perkembangan anak sebagai dasar untuk dapat melakukan deteksi dini secara optimal.
G.  Hal-Hal yang Perlu Diperhatikan dalam Pengumpulan Informasi
Dalam mengumpulkan informasi yang dibutuhkan dalam upaya deteksi dini perkembangan, dapat menggunakan:
*      Interview Klinis
  1. Faktor genetik : kromosom, bahan-bahan kimia
  2. Faktor prenatal : nutrisi ibu semasa hamil, usia ibu dan paritas (jumlah dan jarak kehamilan), infeksi bakteri/virus, disfungsi ibu (obesitas, toxemia), obat-obatan dan zat addiktif, factor psikologis (trauma emosi).
  3. Faktor penntal (saat kelahiran): anoxia (kekurangan O2), prematuritas/postmaturitas, birth injury.
  4. Faktor postnatal : bakteri/infeksi lainnya, rudapaksa kepala (head injury), tumor, racun.
  5. Faktor demografi : Jumlah kelahiran, usia, urutan keluarga
  6. Faktor sosial psikologis : tinggal dip anti, hubungan orang tua anak

*      Tes
Gunakan tes hanya jika dipandang perlu, misalnya tes intelegensi, visual motorik, dsb.

*      Observasi tingkah laku
Observasi tingkah laku langsung dan didasarkan pada informasi yang diperoleh dari rujukan, checklist, atau interview. Metode observasi:
-          dilakukan secara individual
-          dilakukan setiap hari/hari tertentu
-          melihat frekuensi tingkah laku
-          interval recording, misalnya ada atau tidak perilaku muncul dalam interval 15-20 menit
-          duration, yaitu lamanya waktu antara  munculnya sampai hilangnya tingkah laku bermasalah.



H.    Pendekatan dalam Deteksi Dini
*      Nosologi
Nosologi ialah cabang dari ilmu kedokteran yang mengurusi pengelompokan penyakit-penyakit (Wikipedia,2008). Pendekatan ini banyak digunakan oleh psikiater. Pendekatan dalam mendeteksi perkembangan seseorang dengan menggunakan pendekatan ini, biasanya lebih berdasarkan pada hal-hal yang bersifat biologis. Bagaimana seseorang dilihat gejala-gejala yang terjadi dilihat dari faktor biologis yang ada di dalam tubuhnya ataupun dari penyebab terjadinya, untuk didiagnosis penyakit yang mungkin ada, untuk mendapatkan penanganan yang tepat dengan yang diperlukan.
  • Kata kunci                   : - keadaan patalogis
- penyakit
o   Penyebab/genesis        : - patogenesis (mekanisme bagaimana bibit menyebabkan suatu penyakit)
- pola biologis
  • Info yang perlu dicari : - symptom (sindrom yang menetap dan bersifat universal)
Jika suatu penyakit tidak dapat dikelompokkan ke dalam suatu klasifikasi penyakit dan tidak diketahui patogenesisnya, maka diagnosis hanya dikatakan suatu sindrom (simptom)
 - ada karakteristik yang berkaitan dengan rasa   sakit/penyakit, yaitu: merasa kurang bebas, ada disfungsi, ada polaritas antara sakit-sehat, ada diskontinuitas.
- bagaimana symptom/sindrom itu berkembang, misalnya apakah Ibu-Ayah memiliki hubungan keluarga dekat, kapan ibu melahirkan
  • Metode                        : - interview klinis
Contoh-contoh penyakit yang dilihat dari pendektan nosologi ialah seperti orang yang kehilangan pendengaran, penglihatan, dll. Penyakit-penyakit di atas  ialah penghambat seseorang dalam perkembangannya, oleh karena itu, pendekatan nosologi dibutuhkan untuk mendekteksi gejala dan penyebab hal tersebut terjadi, sehingga dapat dilakukan penanganan yang perlu dilakukan.

*      Psikodinamik
   Psikodinamik ialah pendekatan dengan menggunakan teori yang dibuat oleh Sigmund Freud. Pendekatan psikodinamik memiliki asumsi kunci: (a) masalah emosional berakar pada pengalaman masa kanak-kanak, (b) biasanya orang tidak sadar akan sifat alamiah dari pengalaman-pengalaman, (c) materi bawah sadar secara tidak langsung muncul dalam konseling melalui reaksi tranference terhadap konselor dan dalam mimpi serta fantasi.
  • Kata kunci                   : - kelainan perkembangan
  • Penyebab/genesis        : - psikogenesis (kelainan psikologis)
- konflik intrapsikis, yaitu adanya guilty feeling akibat adanya superego anxiety dan id anxiety
o                                Info yang perlu dicari : - pola psikodinamika (interelasi struktur kepribadian      dengan dunia luar)
  • Metode                        : - Interview klinis
- tes proyeksi
- observasi klinis
-asosiasi bebas  (melalui eksplorasi keinginan, mimpi, dan fantasi)

*      Behavioral
   Pendekatan ini ialah pendekatan dengan melihat tingkah laku di luar yang dapat dilihat (observable). Pendekatan behavioral memberikan sebagian besar perhatiannya untuk kontrol dan manajemen tingkah laku. Pendekatan ini melihat tingkah laku-tingkah laku pada suatu fase perkembangan yang berbeda dari biasanya, ataupun berbeda dari tugas-tugas perkembangan yang harusnya dipenuhi oleh seseorang.
   Misalnya ialah anak remaja yang memiliki perilaku agresi yang besar, sehingga anak tersebut sering sekali membuat masalah, bertengkar, berkelahi, dan memiliki kecendrungan yang besar pada kekerasan. Misalnya lagi, perilaku menentang pada anak, anak yang hiperaktif.
  • Kata kunci                   : - Penyimpangan tingkah laku
o                                Penyebab/genesis        : - Antecedents dan consequences (kejadian-kejadian sebelum gangguan tingkah laku  terjadi dan akibat gangguan tingkah laku tersebut)
  • Info yang perlu dicari : - Analisis fungsinonal
- Melihat “behavior style”, yaitu karakteristik tempramen
  • Metode                        : - observasi tingkah laku
- interview

*            Interaksional/Transaksional
Pendekatan interaksional ialah pendekatan yang melihat interaksi yang dilakukan dalam fase perkembangan, atau pola interaksi yang dipakai. Pendekatan transaksional melihat pola komunikasi antar manusia. Bagaimana seseorang berinteraksi dengan orang  lain. Gangguan ataupun hambatan dalam hal komunikasi dapa diketahui melalui pendekatan ini. Misalnya ialah perkembangan bahasa anak pada fase-fase tertentu. Anak-anak yang tidak dapat ataupun belum dapat memenuhi tugas perkembangannya harus dapat dideteksi secara dini.
o   Kata kunci                   : - Gangguan komunikasi
o   Penyebab/genesis        : - Gangguan interaksi social
- Gangguan dalam “mutual dependency to each other” dalam keluarga
o                                Info yang perlu dicari : - melihat pola hubungan komunikasi dan proses komunikasi
- melihat “the whole system of the family”, terutama bagaimana tiap anggota keluarga bertingkah laku terhadap anggota keluarga lainnya
- menganilisis hubungan intra keluarga yang memungkinkan timbulnya tingkah laku bermasalah
- melihat situasi aktual, tidak melihat etiologi (sejauh mana kelainan tingkah laku)
  • Metode                        : - observasi interaksi actual
- intereview perasaan

*            Ekologi
Ekologi adalah ilmu yang mempelajari interaksi antara organisme dengan lingkungannya dan yang lainnya (Wikipedia,2008). Pendekatan ini melihat manusia dan dampak yang muncul dalam interaksinya dengan lingkungan dimana ia berada. Bila kita berbicara tentang ekologi, maka kita berbicara tentang dua komponen penyusun ekologi yang sangat mempengaruhi seseorang, yaitu: abiotik antara lain suhu, air, kelembapan, cahaya, dan topografi, sedangkan faktor biotik adalah makhluk hidup yang terdiri dari manusia, hewan, tumbuhan. Ekosistem dimana seseorang tinggal mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangan seseorang.
o   Kata kunci                   : - krisis, gangguan, dan ekosistem
o   Penyebab/genesis        : - ada disequilibrium antara anak dengan lingkungan
o   Info yang perlu dicari : - mencari keterangan mengapa terjadi krisis
- simptom-simptom yang tampak
  • Metode                        : - analisis: keluhan, posisi anak dalam ekosistem, situasi
- analisis komunikasi kognitif



I. Kasus
Dikutip dari Website\Nakita\ahli.php3 edisi no 411 tahun VIII
   HIPERAKTIF ATAU NAKAL?
Ibu Mayke, saya punya anak lelaki berusia 2 tahun. Kami tinggal bersama nenek/kakek, sepupunya yang berusia lebih muda 6 bulan dan juga orang tua sepupunya. Setiap hari ia dijaga ibu saya karena kami berdua bekerja. Baik saya dan orang tua punya masalah dalam menjaganya karena anak saya aktif sekali. Dari mulai bangun tidur, ada saja yang dikerjakan yang membuat kita tidak bisa membiarkan dia bermain sendiri. Tetangga saja bilang kalau anak saya hiperaktif. Ada juga yang mengatakan ia nakal. Saya sendiri bingung bagaimana harus berbuat agar bisa merubah kelakuannya.
Contohnya, jika dilarang melakukan sesuatu karena membahayakan dirinya (nonton TV dekat-dekat) dia malah bersikap seolah-olah kita yang menyuruhnya. Ia pun sering pura-pura tidak dengar jika dipanggil saat sedang serius nonton atau main. Sepupunya juga sering didorong sampai jatuh. Bahkan kalau sepupunya sedang menangis malah dilempari benda-benda yang ada di sekitarnya. Dia juga lebih senang lari daripada berjalan. Kadang ia suka main mobil-mobilan sendirian.
Kalau sudah capek menjaga, kita akan mengajaknya mendengarkan lagu anak-anak atau bermain PS. Tapi hanya bertahan sebentar lalu ia mulai beraktivitas lagi. Kalau diajak bertamu semua yang ada di rumah akan dipegang atau dimainin. Dia pun akan berkeliling rumah. Saya jadi malas membawanya bertamu. Yang ingin saya tanyakan:
* Apakah anak saya tergolong hiperaktif atau masih kategori normal?
* Apakah anak saya mengalami kelainan autisme?
* Apakah sifat atau ciri-ciri anak hiperaktif dan autisme?
* Kalau dia memang tergolong hiperaktif apa yang mesti saya lakukan?
* Jika dia tergolong anak nakal bagaimana cara saya harus mengajarkannya?
Atas perhatian dan jawabannya, saya ucapkan terima kasih.
Ririn Oktavia - Jakarta
Halo Ibu Ririn, memang seringkali membingungkan dan melelahkan bila mempunyai anak balita yang cenderung sulit diminta diam atau melakukan kegiatan yang tenang. Sayangnya saya tidak dapat mendiagnosa apakah putra Ibu mengalami gangguan perkembangan hiperaktivitas atau tidak. Tetapi untuk didiagnosa autisme kelihatannya tidak, karena ia "membantah" suruhan orang dewasa untuk tidak menonton TV terlalu dekat. Berarti ia dapat berespon terhadap orang lain sekalipun dalam bentuk negatif, ia juga melempari sepupunya yang sedang menangis. Ibu tidak menyebutkan ada tidaknya gerakan yang diulang-ulang atau perhatian yang sangat tertuju pada suatu hal, umpamanya memutar-mutar ban mobil yang dilakukan terus menerus (sering). Ibu juga tidak menjelaskan apakah putra Ibu sudah dapat berbicara atau belum dan seperti apa rangsang bicara yang diberikan untuk anak.
Sebaiknya Ibu berkonsultasi pada seorang psikolog anak agar tidak salah menangani putra Ibu. Saya pernah menangani anak yang dikeluhkan hiperaktif dan agresif. Setelah dilakukan evaluasi psikologis, ternyata anak ini sangat cerdas dan ia dapat memusatkan perhatian pada tugas, tetapi juga sangat suka bergerak. Ia pun sering mendapat hukuman fisik dari pengasuh serta ibunya. Tidak heran bila di sekolah ia sering menyakiti teman-temannya karena ia berpikir itulah satu-satunya cara untuk mengatasi masalah dengan teman.
Menegakkan diagnosa hiperaktif untuk anak Balita harus dilakukan secara hati-hati mengingat mereka mempunyai kecenderungan tidak bisa diam. Menurut DSM IV, beberapa ciri hiperaktivitas harus memenuhi setidaknya 6 atau lebih gejala hiperaktif-impulsif dan setidaknya sudah dialami selama 6 bulan terakhir, yaitu: 1) seringkali tidak dapat duduk tenang di kursi; 2) kerapkali meninggalkan tempat duduk, padahal masih diharapkan untuk duduk di tempatnya masing-masing dan hal ini terjadi dalam berbagai situasi; 3) seringkali berlarian atau memanjat-manjat secara berlebihan padahal situasinya tidak dibenarkan untuk itu; 4)seringkali mengalami kesulitan untuk bermain atau terlibat dalam kegiatan waktu luang yang dilakukan dengan tenang; 5) sepertinya selalu bergerak seperti "motor" yang berputar; 6) banyak berbicara (sering mengobrol pada saat tidak dibenarkan untuk mengobrol); 7) sebelum pertanyaan selesai diucapkan, anak sudah menjawab; 8) seringkali sulit menunggu giliran; 9) seringkali mengganggu/ menginterupsi orang lain. Catatan: beberapa gejala hiperaktif-impulsif yang menyebabkan ketidakmampuan anak untuk diam sudah tampil sebelum usia 7 tahun. Beberapa ketidakmampuan yang tampil pada gejala-gejala di atas muncul dalam dua situasi atau lebih.
Ciri-ciri autisme adalah : 1) anak gagal melakukan interaksi sosial; 2) kegagalan dalam berkomunikasi (perkembangan bahasa/bicara mengalami hambatan); 3) adanya perilaku, minat yang terbatas dan gerakan-gerakan yang diulang-ulang (repetitif, misalnya terus menerus mengamati kipas angin yang berputar). Biasanya anak-anak ini juga mengalami kegagalan untuk menampilkan kegiatan bermain khayal.
Terakhir, saya kurang setuju bila Ibu memberinya julukan "anak nakal". Yang lebih tepat adalah anak yang senang bergerak, bereksperimen untuk menguasai lingkungannya, termasuk orang-orang di sekitarnya. Nakal atau tidak seringkali bergantung pada bagaimana orang dewasa mampu memahami kebutuhannya, memberi anak berbagai alternatif untuk melakukan kegiatan lain sehingga ia tidak selalu dilarang. Semakin sering dilarang, anak merasa dirinya "dipasung", ia makin sengaja melawan perintah orang dewasa, berbuat ulah atau mencari gara-gara. Perilakunya yang sering dinilai nakal oleh Ibu atau keluarga, bisa dinilai positif oleh orang dewasa lain yang lebih bisa memahami kebutuhan anak ini. Anak bisa dinilai sebagai anak yang dinamis, berupaya untuk striving for himself. Bila tidak ada gangguan neurologis, biasanya ia akan semakin dapat diajak bekerjasama setelah usianya bertambah.
Sekian penjelasan yang dapat saya berikan, harapan saya adalah Ibu dan keluarga besar mampu memahami si kecil dan menanganinya dengan besar hati. Kebetulan Ibu mendapat anak yang cenderung aktif, memang tantangan yang perlu Ibu hadapi lebih besar daripada orang tua lain yang mempunyai anak yang "manis-manis". Tetapi bukankah ini merupakan tantangan juga untuk Ibu sekeluarga, sejauh mana mampu menangani "proyek" besar ini? Selamat bekerja keras dan bergotong royong membantu perkembangan si kecil!
Dra. Mayke Tedjasaputra
Psikolog pada Lembaga Psikologi Terapan-UI


J. Analisis Kasus
Pada kasus di atas terlihat si ibu merasa ada kejanggalan dalam perkembangan anaknya, ia merasa anaknya terlalu aktif dan merasa bingung karena tetangganya  mengatakan bahwa anak tersebut tergolong hiperaktif. Bahkan, si Ibu mengkhawatirkan kalau anaknya mengalami kelainan autisme. Ibu tersebut berkonsultasi dengan seorang ahli agar mendapat keterangan yang lebih jelas, apakah anaknya mengalami gangguan perkembangan dan bagaiamana ia harus mengatasinya. Ini memperlihatkan adanya usaha dari orang tua untuk melakukan deteksi dini dalam perkembangan anaknya. Kemudian ahli tersebut memberikan penjelasan atas pertanyaan yang diberikan, ia memnguraikan bagaimana ciri anak-anak yang hiperaktif dan anak autisme. Ahli tersebut juga menyarankan agar anak tersebut dibawa ke psikolog anak agar tidak salah dalam penanganannya.
Dari kasus di atas terlihat adanya kerja sama antara orang tua dan seorang ahli dalam melakukan deteksi dini pada anak berusia 2 tahun, yang telihat terlalu aktif dan dicurigai hiperaktif serta mengalami kelainan autisme. Deteksi dini ini sangat berguna untuk penanganan yang lebih optimal agar tidak terjadi gangguan atau hambatan perkembangan yang lebih kompleks.

Agnes. 2006. Deteksi Dini Hambatan dalam Perkembangan. [Online]. Tersedia:
Aqsyaluddin. 2007. Kata Psikolog, Deteksi Dini Gangguan Perkembangan Anak. [Online]. Tersedia: http://www.mail-archive.com/milis-nakita@news.gramedia-majalah.com/.  [7 September 2008 ]
Arixs. 2008. Deteksi Dini Gangguan Perkembangan Anak. [Online]. Tersedia: http://www.sinarharapan.co.id/berita/0702/02/ipt02.html. [7 September 2008 ]
               Chottijah, Siti dan Herlina..2007. Deteksi Dini Dalam Perkembangan (Kumpulan Materi Kuliah). Bandung: Psikologi Universitas Pendidikan Indonesia.

Tidak ada komentar: