Members Links (Text only)

Jumat, 28 Januari 2011

normal dan abnormal

A.   Definisi 

      Pribadi normal itu pada umumnya memiliki mental yang sehat, sedang pribadi yang abnormal biasanya juga memiliki mental yang tidak sehat. Namun demikian, pada hakekatnya konsep mengenai normalitas dan abnormalitas itu sangat samar-samar batasnya. Sebab pola kebiasaan dan sikap hidup yang dirasakan normal oleh suatu kelompok tertentu, bisa dianggap abnormal oleh kelompok lainnya. Akan tetapi apabila satu tingkah laku itu begitu mencolok dan sangat berbeda dengan tingkah laku umum, maka kita akan menyebutnya sebagai abnormal. 
      Menurut WHO normal (Kartono, 2000) adalah keadaan dimana seseorang yang sempurna fisik, mental dan sosialnya, tidak mengidap penyakit dan kelemahan-kelemahan tertentu. Sedangkan Karl Meninger mengatakan bahwa normal adalah adanya penyesuaian timbal balik dari nilai-nilai manusaia terhadap alam/lingkungannya secara maksimal, efisien dan menyenangkan baik bagi manusia itu sendiri maupun alam lingkungannya, yang bukan semata-mata agar efisien, puas atau taat pada lingkungan, tetapi secara menyeluruh, mampu mengelola integrasi social dan kebahagiaan hidup, perasaan inteligensi.
      HB English (Kartono, 2000) mengatakan bahwa normal merupakan keadaan yang relative berlangsung selama beberapa waktu tertentu dimana seseorang mampu melakukan adjustment dengan baik, dapat menikmati kehidupan dan mampu mencapai aktualisasi diri.
      Menurut Wb Boehm normal (Kartono, 2000) adalah kondisi dan taraf pemfungsian social yang oleh lingkungan social dapat diterima dan secara individu dirasa menyenangkan.

B.   Kriteria normal dan abnormal

Kriteria Normal

     
      Maslow dan Mittelmann  dalam  Kartono (1985) membuat kriteria bagi seseorang yang pribadinya berfungsi normal-sehat, ditambahkan oleh saanin sebagai berikut :
1.      Memiliki perasaan  aman yang wajar. Mempu berkontak dengan orang lain dalam bidang kerja, di tengah pergaulan dan dalam lingkungan keluarga.
2.      Mempunyai derajat penilaian sendiri yang wajar, memilliki wawasan yang rasional dengan rasa harga diri yang tidak berlebihan. Memiliki rasa sehat secara moril dan tidak dihinggapi rasa-rasa berdosa atau bersalah. Dapat menilai perilaku orang lain yang asosial dan non manusiawi sebagai gejala masyarakat yang menyimpang.
3.      Memiliki tujuan hidup yang realistis. Tujuan yang dimaksud adalah tujuan yang bisa dicapai dengan kemampuan sendiri, sebab sifatnya wajar dan realistis. Ditambah ddengan keuletan dalam mencapai tujuan hidup tersebut, demi manfaat bagi dirinya sendiri dan orang lain.
4.      Memiliki hubungan yang efektif dengan kenyataan. Tanpa adanya fantasi dengan angan-angan yang berlebihan. Dapat menerima segala cobaan hidup ddengan lapang dada, memiliki kontak yang riil dan efisien dengan dirinya sendiri dan mudah melakukan adaptasi atau mengasimilasikan diri jika lingkungan sosial tidak bisa diubah. Bersikap kooperatif terhadap kenyataan yang tidak bisa ditolak.
5.      Memiliki kepribadian yang terintegrasi dan konsisten. Mempunyai kebulatan unsur jasmaniah dan rohaniah, dan mudah mengadakan asimilasi dan adaptasi dengan perubahan yang serba cepat, dan mempunyai minat pada macam-macam aktivitas. Mempunyai moralitasyang tidak kaku dan memiliki daya konsentrasi terhadap satu usaha yang diminati.     
6.      Mampu  mengolah dan menerima pengalamannya dengan sikap yang luwes. Bisa menilai batas kekuatan sendiri dan situasi yang dihadapi. Menghindari teknik pembenaran diri dan pelarian diri yang tidak sehat.
7.      Memiliki spontanitas dan emosionalitas yang wajar. Mampu menjalin relasi yang kuat dan lama seperti persahabatan, komunikasi sosial dan relasi cinta. Jarang kehilangan control terhadap diri sendiri. Penuh tenggang rasa terhadap pengalaman orang lain. Dapat tertawa dan bergembira secara bebas, dan mampu menghayati penderitaan dan kedudukan tanpa lupa diri.
8.      Memiliki kesanggupan untuk dapat memuaskan kehendak-kehendak jasmaniah secara wajar dan tidak berlebih-lebihan, dengan kesanggupan untuk memuaskan melalui cara-cara yang disetujui.
9.      Memiliki dorongan dan  nafsu-nafsu  jasmaniah yang sehat. Mampu memuaskan nafsu-nafsu tersebut dengan cara yang sehat, namun tidak diperbudak oleh nafsu itu sendiri. Mampu menikmati kesenangan hidup, dan bisa cepat pulih dari kelelahan,
10.  Adanya sikap emansipasi yang sehat terhadap kelompoknya dan terhadap kebudayaan namun dia masih memiiki originalitas serta individualitas yang khas dan dapet membedakan perbatan buruk dan yang baik.
11.  Memiliki pengetahuan diri yang cukup antara lain bisa menghayati motif-motif hidupnya dalam status kesadaran. Ia menyadari nafsu dan hasratnya, cita-cita dan tujuan hidupnya yang reaistis dan bisa mengatasi ambisi-ambisi dalam batas kenormalan.
Tidak ada seorangpun yang dapat memenuhi kriteria ini dengan sempurna. Seseorang mungkin kurang dalam satu segi, tetapi masih memilki kesehatan

Kriteria abnormal

     
Rita Atkinson (2002)  menyatakan bahwa untuk dapat mendeskripsikan perilaku abnormal dapat didasarkan pada beberapa hal bawah ini :
1.      Penyimpangan dari norma statistik
Normal yang berarti menyimpang atau berbeda dari normal. Maka banyak sekali hal yang mencakupi definisi tersebut, misalnya tinggi badan, berat badan, inteligensi, mencakup suatu rentang nilai jika diukur pada suatu populasi. Sebagian orang akan jatuh pada pertengahan tinggi badan, sementara sedikit individu yang merupakan jangkung secara abnormal atau pendek secara abnormal. Abnormalitas didasarkan pada frekuensi statistik adalah yang secara statistik jarang atau menyimpang dari normal. Namun kita tidak bisa hanya memandang abnormal dari sudut pandang statistik saja, karena jika kita hanya memandang dari sudut statistik saja maka orang yang terlalu cerdas atau sangat gembira akan di klasifikasikan kepada orang yang abnormal.

2.      Penyimpangan dari norma sosial
Setiap kelompok sosial mempunyai batasan-batasan yang berbeda untuk perilaku yang dapat diterima atau yang dianggap tidak sesuai dengan norma. Perilaku dikatakan abnormal apabila perilaku tersebut menyimpang dari norma-norma yang berlaku pada kelompok sosial tersebut. Namun akan menjadi sebuah masalah apabila norma-norma sosial dijadikan patokan untuk mendefinisikan sebuah abnormalitas. Karena akan sangat berbeda standar atau norma pada suatu kelompok sosial dengan kelompok sosial lainnya. Akan ada perilaku yang dianggap normal oleh kelompok sosial A yang mungkin dianggap tidak abnormal pada kelompok sosial B. Maka kita tidak cukup hanya memandang abnormalitas dari segi sosial saja.


3.      Perilaku maladaptif
Menurut kriteria ini, perilaku dianggap abnormal jika ia bersifat maladaptif, jika perilaku tersebut memiliki pengaruh buruk pada individu atau masyarakat. Beberapa jenis perilaku menyimpang mengganggu kesejahteraan individu. Bentuk lain penyimpangan perilaku adalah berbahaya bagi masyarakat.

4.      Distress pribadi
Kriteria ini menganggap abnormalitas dalam pengertian perasaan distress subjektif individual ketimbang perilaku individual. Sebagian besar orang yang didiagnosis menderita penyakit mental merasakan penderitaan batin yang berat. Maka cemas, terdepresi, atau teragitasi, dan banyak uang menderita insomnia, penurunan nafsu makan, atau sakit. Kadang-kadang distress pribadi mungkin merupakan satu-satunya gejala abnormalitas perilaku individu, perilaku individu mungkin tampak normal bagi pengamat
awam.

Secara psikologis timbul beberapa cara untuk menentukan abnormalitas

C.   Istilah perilaku abnormal.


      Banyak istilah-istilah yang sering digunakan untuk manyatakan abnormalitas. Padahal istilah-istilah tersebut memiliki maknanya masing-masing. Mif Baihaqi dkk menjelaskan beberapa istilah yang berkaitan dengan psikologi abnormal. Adapun istilah-istilah tersebut ialah sebagai berikut :

Perilaku abnormal

Istilah ini kadang-kadang dipakai untuk menunjuk batiniah kepribadian, aspek perilaku yang dapat langsung diamati, atau keduanya. Kadang-kadang yang dimaksud hanyalah perilaku spesifik tertentu  seperti phobia atau kategori perilaku yang lebih kompleksseperti skizophrenia. Kadang-kadang diartikan sebagai problem atau masalah yang bersifat kronik berkepanjangan atau hanya berupa symptom-symptom seperti pengaruh obat-obatan tertentu yang bersifat akut dan temporer.

Perilaku maladaptif    


            Maladaptif merupakan istilah untuk perilaku yang merugikan bagi dirinya dan lingkungannya. Istilah ini tidak hanya digunakan untuk gangguan seperti neurosis dan psikosis yang bermacam-macam jenisnya, namun dapat digunakan untuk perilaku seperti bisnis curang, prasangka rasa tau golongan, dan apatis

Gangguan mental

           
Istilah ini digunakan untuk semua jenis perilaku abnormal, mulai dari perilaku yang ringan sampai yang berat. Istilah ini dipandang member kesan seolah-olah ada dualisme antar jiwa dan badan.

Psikopatalogis


            Psikopatalogis dapat diartikan sebagai ilmu yang secara khusus melakukan kajian tentang perilaku abnormal atau gangguan mental.

Penyakit jiwa


            Dahulu istilah ini disamakan dengan istilah gangguan mental. Namun sekarang istilah itu telah dipersempit dengan hanya mencakup gangguan-gangguan yang melibatkan patalogi otak.

Gangguan perilaku


Istilah ini ditunjuk untk gangguan-gangguan yang diperoleh dari proses belajar yang tidak sesuai, seperti gagal dalam mempelajari jenis-jenis kemampuan yang diperlukan (mis: ketidakamampuan mencintai lawan jenis), atau terlanjur mempelajari perilaku-perilaku maladaptive (mis: anak yang berperilaku agresif karena melihat orang tuanya dengan keadaan yang tidak harmonis)

D.   Model-model teoritis untuk menentukan abnormalitas

Model deskriptif

      Model merupakan usaha untuk menguraikan tingkah laku abnormal berdasarkan kriteria-kriteria abnormal. Jadi secara eksternal ditentukan apa yang menjadi kriteria standar, lalu akan dinilai mana yang normal dan mana yang abnormal.
      Macam-macam model deskriptif:
a.      Model subjective
      Dibuat dengan menetapkan diri sendiri sebagai standar yang sama disebut normal dan yang berbeda disebut abnormal.
b.      Model normative
      Dibuat lebih dahulu ketentuan-ketentuan bentuk-bentuk tingkah laku yang dianggap ideal. Model ini kurang ilamiah kurang ilmiah karena sangat idealis, tidak dapat menagkap hal yang riil.
c.       Model statistic
      Bentuk-bentuk tingkah laku yang dilakukan oleh banyak orang pada umumnya, dinyatakan sebagai tingkah laku yang normal (average), sedangkan yang dilakukan oleh sebagian kecil orang dianggap yang abnormal. Tingkah laku yang buruk atau baik tidak turut diperhitungkan, hanya tingkah laku yang sederhana yang bisa diinventarisir.
d.      Model cultural
      Bentuk tingkah laku yang oleh sebagian terbesar anggota masyarakat dianggap atau diterima, maka tingkah laku tersebut dipandang normal. Sebaliknya jika perilaku tersebut tidak berlaku di dalam anggota masyarakat tersebut, maka dianggap abnormal.

      Model deskriptif ini hanya dapat memandang tingkah laku yang sederhana, sedangkan banyak tingkah laku yang dipengaruhi, dan disorganized personality (Hitler, Nero dsb).

Model eksplanatory


      Model ini merupakan suatu usaha untuk mencoba menguraikan tingkah laku abnormal berdasarkan proses mengapa dan bagaimana abnormalitas itu terjadi  (berdasarkan proses internal ).
Macam-macam model eksplanatory :
a.      Model disease/model medis/model biologis
Kelainan / abnormalitas tingkah laku dianggap sebagai suatu bentuk penyakit (medis). Pada ilmu pengetahuan modern, model medis ini kebanyakan ditentang karena sulit mendefinisikan dalam masyarakat tentang apa yang secara psikologis dinilai sehat atau sakit (psychological model).
b.      Model psikodinamis
Tingkah laku abnormal / gangguan kejiwaan terjadi karena adanya konflik dalam unconscious antara unsur-unsur yang terdapat didalamnya (model psikoanalisa).
c.       Model learning
Tingkah laku abnormal terbentuk sebagai hasil proses conditioning dan learning yang terjadi dalam pengalaman hidup seseorang (model behavior theory) yang di maintain melalui reward dan punishment.
d.      Model stress
Tingkah laku abnormal terjadi sebagai respons terhadap stress/pressure yang tidak mampu diatasi secara memuaskan oelh individu yang bersangkutan.
e.       Model interpersonal
Tingkah laku abnormal tumbuh dari berbagai macam bentuk rasa cemas/ketakutan terhadap relasi-relasi interpersonal yang berlebihan.
f.       Model family dynamic
Tingkah laku abnormal timbul karena perkembangan kekuatan-kekuatan dinamik yang terjadi didalam kehidupan keluarga.
g.      Model sosial
Tingkah laku abnormal terjadi oleh karena adanya dinamika kekuatan-kekuatan sosial didalam masyarakat.
     
      Kedua model ini harus dipergunakan dalam menyusun kriteria-kriteria tentang tingkah laku yang kita anggap sebagai tingkah laku norman dan abnormal.

E.   Bentuk-bentuk abnormalitas psikis

Psikoneurosa

      Individu yang mudah sekali menyerah bila dihadapkan pada situasi sulit. Biasanya kemudian menampilkan bebagai bentuk gejala gangguan fisik  atau  psikis yang berlangsung untuk bebarapa lama atau mungkin juga menetap.
·         Mental symptom ; anxiety, tension, restlessness, tidak mampu berkonsentrasi, takut tanpa sebab, ide-ide inadequate, kehilangan kemampuan mengingat, obsesi.
·         Fisik symptom ; sakit kepala, pusing, lelah yang amat sangat, hilangnya fungsi sensorik/motorik.

Psikosa

      Gangguan mental yang amat parah yang menghancurkan integrasi (keutuhan) kepribadian dan merobek relasi sosial dari individu yang bersangkutan. Tingkah laku invidu sulit dimengert, tidak masuk akal, seolah-olah hidup dalam dunia sendiri (identitas dirinya hilang).
·         Dimata hukum : tidak dapat dimintai tanggung jawab atas perbuatan / tingkah lakunya.
·         Mental symptom : halusinasi, delusi (waham), gangguan isi pikiran, gangguan kesadaran.
·         Fisik symptom ; gangguan psikosomatik, kaku, stupor (kejang).

Mental deficiency (mental retarded, feeble minded (inteligensi rendah)

      Gangguan mental yang disebabkan pertumbuhan psikis yang subnormal, sehingga tidak mampu self support dan self management. Dalam bentuknya yang tidak terlalu parah, hubungan interpersonal masih bisa berlangsung. Dalam batas-batas tertentu, beberapa ketermapilan tertentu masih bisa diberikan secara adekuat.

Kepribadian anti sosial (psikopathik)

      Abnormalitas psikis yang terjadi karena terbentuknya poreus (lubang) dalam tingkah laku sosialnya sehingga seolah-olah tidak memiliki norma sosial (norma dalam relasi dengan lingkungan) akibatnya seolah-olah tidak memiliki rasa salah atau cemas atau dosa apabila berbuat sesuatu yang dianggap salah oleh norma lingkungan masyarakatnya. Biasanya terjadi karena pembentukan nilai-nilai sosial kedalam diri seseorang terganggu. Misalnya pada keluarga broken home.
·         Symptom : impulsive, selfish, emosi tidak stabil, tidak ada etik atau norma.

F.    Abnormalitas dalam perkembangan

Dalam teori psikologi menekankan bahwa perilaku manusia itu dipengaruhi oleh masa lalunya. Namun tidak jelas apakah hal yang paling berpengaruh itu adalah psikodiamis, belajar, keturunan, atau fisiologisnya. Bagaimanapun juga mereka tidak menyelidiki jalannya perkembangan gangguan tersebut dan manifestasi yang khas yang dikaitkan dengan gangguan masa kanak-kanak.
            Para psikolog menyadari bahwa pemahaman mengenai psikopatologi dapat ditingkatkan dengan cara mempelajarinya dalam hubungannya dengan perubahan perkembangan. Oleh karena itulah gangguan yang terjadi pada orang dewasa merupakan pengaruh dari gangguan pada masa kanak-kanak.
            Achenbach dalam Clerq (1994) berpendapat bahwa istilah psikopatologi perkembangan memsatkan pada nilai psikopatologi dalam hubungannya dengan perubahan utama yang secara khas muncul dalam kehidupan. Perspektif tersebut dapat membantu melakukan penilaian terhadap abnormalitas dari sudut pandang tahap-tahap  dan penentu dalam perkembangan fisik, kognitif, sosial, emosional dan pendidikan.
            Penelitian Achenbarch dalam Clerq (1994), mengarah pada dua hal yaitu :
1)      Menyelidiki dampak pengalaman masa kanak-kanak pada tingkah laku orang dewasa, dengan demikian mempertimbangkan pengaruh lingkunga abnormal anak dan orangn dan keluarga.
2)      Dengan melihat kontinuitas dan diskontinuitas diantara manifestasi tingkah laku abnormal anak dan orang dewasa. (contoh : apakah depresi dimasa kanak-kanak mengarah pada depresi orang dewasa ?)
Kedua pendekatan ini berusaha memahami masa perkembangan permasalahan tingkah laku. Gambaran ini penting untuk melihat ciri nyta anak-anak dalam hubungannya dengan teman sebaya, untuk mendeteksi bagaiman keadaannya jika dibandingkan dengan keadaan normal, mengidentifikasi bagaimana pula tingkah laku bermasalah menandai anak-anak pada usia yang berbeda, dan memahami kelangsungan dan ketidak langsungan perkembangan.              
Hersen dan Last dalam Clerq (1994) berargumen bahwa tingkah laku abnormal ada dan berkembang didalam interaksi individu dan konteksnya. Perubahan-perubahan perkembangan hanya dapat dimengerti di dalam konteks yang berubah.

Tidak ada komentar: