Members Links (Text only)

Jumat, 28 Januari 2011

ALFRED ADLER

A.    Biografi
Psikoanalisis dan psikologi analitis sangat dipengaruhi oleh pandangan positivistis yang mendasari fisika dan biologi pada abad ke-19. Tetapi pada akhir abad ke-19 juga terdapat arah pikiran yang yang lain, yang terutama dipengaruhi oleh sosiologi dan antropologi yang sedang berkembang pesat pada dewasa itu. Menurut ilmu-ilmu sosial ini manusia adalah terlebih-lebih hasil masyarakat dimana ia hidup, manusia adalah terutama makhluk sosial daripada makhluk biologis. Sedikit demi sedikit pandangan ini makin meresap ke dalam psikologi dan mendewasakan psikologi, dan hal ini akhirnya mempengaruhi pula teori kepribadian. Salah satu teori kepribadian yang memakai cara pendekatan psikologi sosial adalah individual psychology yang didirikan oleh Adler.
Alfred Adler lahir di Wina pada 7 Februari 1870 dari keluarga kelas menengah. Ia dilahirkan sebagai anak kedua dari enam bersaudara dan tumbuh di pinggiran kota Wina. Adler meninggal di Aberdeen, Skotlandia pada tahun 1937 pada waktu ia mengadakan perjalanan keliling untuk memberikan ceramah.
Pada awal masa kanak-kanaknya, Adler tidak bahagia. Hal itu ditandai dengan sakit dan kesadaran terhadap kematian, ketidakbahagiaan, dan kecemburuan dari kakak tertuanya. Ia menderita rakhitis, yang membuatnya tidak dapat berlari dan bermain dengan anak lain. Pada umur 3 tahun, ia menyaksikan kematian adik bungsunya, sedangkan pada umur 4 tahun, Adler sendiri sudah sangat dekat dengan kematian karena pneumonia.
Adler pada awalnya dimanjakan oleh ibunya, hal itu hanya agar ia dapat menerima kehadiran adik laki-lakinya. Hubungan masa kanak-kanaknya dengan orang tuanya menjadi sangat berbeda dengan Freud. Adler lebih dekat dengan ayahnya daripada ibunya. Dan dapat dimengerti jika kemudian ia menolak kompleks Oedipus milik Freud karena hal itu sangat asing bagi pengalaman masa kecilnya.
Seiring pertumbuhannya dan meningkatnya kesehatannya, Adler mulai menghabiskan banyak waktu di luar ruangan, terutama karena ia tidak bahagia di rumah. Meskipun ia dikenal dengan kekakuan dan ketidakatraktifannya, ia bekerja keras untuk menjadi disukai oleh teman bermainnya dan menemukan perasaan penerimaan dan harga diri yang tidak ia temukan di rumah. Hasilnya, ia membangun kasih sayang yang besar bagi persahabatan dengan orang lain, sebuah karakteristik yang ia pegang seumur hidupnya. Dalam teori kepribadiannya, ia menekankan pada pentingnya hubungan anak dengan kelompok teman sebaya. Ia melihat peran anak lain, baik saudara maupun orang lain, adalah lebih penting bagi perkembangan kepribadian.
Di sekolah, Adler tidak bahagia dan merupakan murid yang biasa-biasa saja. Ia khususnya tidak pandai dalam matematika, tetapi lewat ketekunan dan kerja keras ia bangkit dari murid yang gagal, menjadi yang terbaik di kelasnya.
Dalam banyak hal, masa kecilnya seperti sebuah tragedi. Juga terlihat sebagai contoh dari teori Adler mengenai mengatasi kelemahan masa kecil dan inferioritas, dan membentuk tujuan seseorang sebagai gantinya, terbentuk oleh hal itu. Seseorang yang dapat memberikan dunia anggapan tentang perasaan inferioritas tentu saja berbicara dari kedalaman pengalaman masa kecilnya sendiri.
Memenuhi ambisi masa kecilnya, Adler belajar ilmu kedokteran di Universitas di Wina. Ia meraih gelar dokter pada tahun 1895 dari Universitas tersebut. Mula-mula ia mengambil spesialisasi di bidang ophtalmologi, kemudian setelah menjalani praktik dokter umum, ia menjadi seorang psikiater. Ia menjadi anggota dan kemudian menjadi ketua Masyarakat Psikoanalisis Wina. Akan tetapi Adler segera mengembangkan ide-idenya yang menyimpang dari ide-ide Freud dan anggota-anggota lain di masyarakat Wina itu, dan ketika perbedaan-perbadaan menjadi tajam, ia diminta menyajikan pandangan-pandangannya di hadapan masyarakat itu, Adler mengundurkan diri dari jabatan ketua dan beberapa bulan kemudian ia memutuskan hubungan dengan psikoanalisis Freudian.
Kemudian ia membentuk kelompoknya sendiri, yang kemudian dikenal sebagai Psikologi Individual dan menarik pengikut dari seluruh dunia. Selama perang dunia I, Adler bekerja sebagai dokter pada laskar tentara Austria dan sesudah perang ia tertarik pada bimbingan anak-anak dan mendirikan klinik bimbingan yang pertama yang berhubungan dengan sistem aliran Wina. Ia juga mendorong berdirinya aliran eksperimental di Wina yang menerapkan teorinya di bidang pendidikan.
Pada tahun 1935 Adler menetap di Amerika Serikat di mana ia meneruskan praktiknya sebagai psikiater dan menjadi profesor dalam psikologi medis di Long Island College of Medicine. Adler adalah seorang penulis produktif dan seorang penceramah yang tidak kenal lelah. Ide-ide Adler disebarluaskan di Amerika Serikat oleh America Society of Adlerian Psychology dengan cabang-cabangnya di New York, Chicago, dan Los Angeles dan melalui jurnalnya, yakni The American Jurnal of Individual Psychology.
Berbeda secara tajam dengan pokok pandangan Freud bahwa tingkah laku manusia didorong oleh insting-insting yang dibawa sejak lahir dan dengan aksioma pokok jung yang menyatakan bahwa tingkah laku manusia dikuasai oleh arkhetipe-arkhetipe yang dibawa sejak lahir. Adler berpendapat bahwa manusia pertama-tama dimotivasi oleh dorongan-dorongan sosial. Menurut Adler, manusia pada dasarnya adalah makhluk sosial. Mereka menghubungkan dirinya dengan dengan orang lain, ikut dalam kegiatan kerjasama sosial, menempatkan kesejahteraan sosial di atas kepentingan sendiri, dan mengembangkan gaya hidup yang mengutamakan orientasi sosial. Adler tidak berkata bahwa manusia disosialisasikan hanya dengan melibatkan diri pada proses-proses sosial.
Dorongan sosial adalah sesuatu yang dibawa sejak lahir, meskipun tipe-tipe khusus hubungan dengan orang dan pranata-pranata sosial yang berkembang ditentukan oleh corak masyarakat tempat orang itu dilahirkan. Maka dalam satu segi, pandangan Adler sama-sama bersifat biologis seperti Freud dan Jung. Ketiga-tiganya berpendapat bahwa seseorang mempunyai kodrat inheren yang membentuk kepribadiannya.
Alfred Adler, sama seperti para teoritikus kepribadian lain yang latar belakang pendidikan utamanya adalah kedokteran dan membuka praktik psikiatri, mulailah berteori dalam psikologi abnormal. Ia merumuskan suatu teori tentang neurosis sebelum memperluas jangkauan teorinya pada kepribadian normal, dan ini terjadi pada tahun 1920-an. Teori kepribadian Adler sangat ekonomis dalam arti bahwa sedikit konsep dasar menopang seluruh struktur teoritisnya. Karena itu segi pandang Adler dapat dengan cepat disajikan secara ringkas dalam sejumlah kecil rubrik, yakni finalisme fiktif, perjuangan ke arah superioritas, perasaan inferioritas dan kompensasi, minat sosial, gaya hidup, diri kreatif.

B.     Pokok-Pokok Teori Adler
1.      Finalisme Fiktif
Dipengaruhi oleh filsafat Hans Vaihinger, Adler berpendapat bahwa manusia lebih dimotivasikan oleh harapan-harapannya tentang masa depan daripada pengalaman-pengalaman masa lampaunya. Baik Vaihinger maupun Adler tidak percaya pada nasib atau takdir, melainkan hadir secara subjektif atau secara mental di sini dan kini dalam bentuk perjuangan-perjuangan secara cita-cita yang mempengaruhi tingkah laku sekarang. Misalnya apabila orang percaya bahwa ada surga bagi orang-orang saleh dan neraka bagi para pendosa maka bisa diandaikan bahwa kepercayaan ini akan sangat mempengaruhi tingkah lakunya. Bagi Adler, tujuan-tujuan fiktif ini merupakan penyebab subjektif peristiwa-peristiwa psikologis.
Tujuan final itu bisa berupa suatu fiksi, yakni suatu cita-cita yang tidak mungkin direalisasikan, tetapi merupakan pelecut yang sungguh-sungguh nyata ke arah perjuangan manusia dan penjelasan terakhir tentang tingkah laku. Akan tetapi Adler yakin bahwa orang normal dapat membebaskan diri dari pengaruh fiksi-fiksi ini dan menghadapi kenyataan jika dibutuhkan, sedangkan orang neurotik tidak mampu berbuat demikian.

2.      Perjuangan ke Arah Superioritas
Pada tahun 1908, Adler telah mencapai kesimpulan bahwa agresi lebih penting daripada seksualitas. Kemudian impuls agresif itu diganti dengan “hasrat akan kekuasaan”. Adler mengidentifikasikan kekuasaan dengan sifat maskulin dan kelemahan dengan sifat feminin. Pada tahap pemikiran inilah (kira-kira tahun 1900) ia mengemukakan ide tentang “protes maskulin” suatu bentuk kompensasi berlebihan yang dilakukan baik oleh pria maupun wanita jika mereka merasa tidak mampu dan rendah diri. Kemudian Adler menggantikan “hasrat kekuasaan” dengan “perjuangan ke arah superioritas” yang tetap dipakainya untuk seterusnya. Jadi ada tiga tahap dalam pemikiran Adler tentang tujuan final manusia, yakni: menjadi agresif, menjadi berkuasa, dan menjadi superior.
Adler menegaskan bahwa superioritas bukan pengkotakan sosial, kepemimpinan, atau kedudukan yang tinggi dalam masyarakat. Tetapi superioritas yang dimaksudkan Adler adalah sesuatu yang sangat mirip dengan konsep Jung tentang diri atau prinsip aktualisasi-diri dari Goldstein. Superioritas adalah perjuangan ke arah kesempurnaan. Ia merupakan “dorongan kuat ke atas”.
Adler menyatakan bahwa perjuangan ke arah superioritas bersifat bawaan: bahwa ia merupakan bagian dari hidup; malahan hidup itu sendiri. Dari lahir sampai mati perjuangan ke arah superioritas itu membawa sang pribadi dari satu tahap perkembangan ke tahap-tahap perkembangan berikutnya yang lebih tinggi. Ia merupakan prinsip dinamik prepoten. Dorongan-dorongan tidaklah terpisah, karena masing-masing dorongan mendapatkan dayanya dari perjuangan ke arah kesempurnaan. Adler mengakui bahwa dorongan ke arah superioritas itu dapat menjelma dengan beribu-ribu cara yang berbeda-beda, dan bahwa setiap orang mempunyai cara konkret masing-masing untuk mencapai atau berusaha mencapai kesempurnaan.
Merasa sifat rendah diri, Adler berkata hal itu sungguh normal: kita semua mulai hidup sebagai makhluk kecil, lemah. Sepanjang hidup, merasa sifat rendah diri dibangun secara konstan ketika kita menemui tugas yang tidak familier dan baru yang harus dikuasai. Perasaan ini adalah penyebab dari semua peningkatan di dalam tingkah laku manusia. Anak, contohnya, yang sedang belajar untuk meluncur dan tetap merasa rendah diri sebab ia belum menjadi peluncur yang baik. Perasaan anak memotivasinya untuk terus praktek sampai ia dapat meluncur dengan baik. Di usia 40 tahun orang dewasa yang mendapat suatu promosi marasa rendah dalam posisi yang barunya sampai ia mempelajari bagaimana cara menangani tugas yang baru itu. Setiap kali kita menghadapi suatu tugas yang baru, kesadaran awal sifat rendah diri adalah terbentuk ketika kita mencapai suatu tingkat fungsional yang lebih tinggi.

3.      Perasaan Inferioritas dan Kompensasi
Inferior adalah kondisi yang umum bagi semua orang, dan seperti yang telah diketahui, bukanlah merupakan satu tanda kelemahan atau abnormalitas. Semua kemajuan manusia, pertumbuhan, dan perkembangan dihasilkan dari usaha untuk mengkompensasi inferioritas seseorang, apakah inferioritas tersebut adalah nyata atau hanya imajinasi. Sepenjang kehidupan individu, seseorang dimotivasi oleh kebutuhan untuk mengatasi perasaan inferioritas ini dan untuk berusaha untuk ke tingkat perkembangan yang lebih tinggi. Menurut Adler proses tersebut dimulai pada masa bayi. Bayi kecil dan tidak berdaya, sepenuhnya bergantung pada orang dewasa. Adler merasa bahwa bayi menyadari dari ketergantungannya terhadap tenaga dan kekuatan yang lebih besar dari orang tuanya; bayi menyadari ketidakmungkinannya untuk menahan dan menentang kekuatan tersebut. Hasilnya, bayi membangun perasaan inferior ketergantungan pada orang yang lebih besar, lebih kuat di lingkungannya, dimana, bagi bayi, dimanapun sama saja: lemah dan tergantung pada orang dewasa.
Penting untuk dipahami bahwa perasaan inferior itu tidak dapat dihindari. Inferioritas memberikan motivasi terbesar untuk berusaha, untuk tumbuh, agar lebih maju dan sukses. Semua kemajuan dan peningkatan dihasilkan dari usaha mengkompensasi perasaan inferior ini. Hal itu sangat berharga dan berguna.
Apa yang terjadi bila anak tidak mampu untuk mengkompensasi perasaan inferioritasnya? Ketidakmampuan mengatasi perasaan inferior akan menguat dan sering terjadi dan perasaan ini membawa pada kompleks inferioritas. Adler menjelaskan kondisi ini sebagai “ketidakmampuan untuk mengatasi masalah-masalah hidup” dan ia menemukan kompleks semacam itu pada masa kanak-kanak dari banyak orang dewasa yang datang padanya untuk pengobatan. Kompleks inferioritas dapat bersumber dari tiga hal: melalui inferioritas organis, melalui memanjakan, dan melalui pengabaian.
Investigasi mengenai inferioritas organis merupakan usaha pertama Adler yang dilakukan saat ia masih bersama Freud. Adler mengatakan bahwa cacat organ atau bagian tubuh mempengaruhi perkembangan personal melalui usaha seseorang untuk mengkompensasi cacat atau kelemahan, seperti yang Adler lakukan untuk mengkompensasi penyakit rakhitisnya yang merupakan inferioritas organis pada masa kecilnya.
Memanjakan anak juga dapat membawa pada kompleks inferioritas. Anak yang dimanjakan tentu saja merupakan pusat perhatian di rumah, dimana setiap keinginannya dipenuhi dan sedikit yang diabaikan. Dibalik persoalan anak yang secara alami membangun pemikiran bahwa ia adalah orang yang paling penting dalam setiap situasi dan orang lain harus menurut padanya.
Anak manja memiliki sedikit, jika ada, perasaan sosial dan sangat tidak sabaran dengan orang lain. Anak manja juga tidak dapat mengatasi kesulitan atau menyesuaikan diri dengan orang lain. Bila berhadapan dengan rintangan untuk mendapatkan kesenangan, mereka percaya bahwa ketidakmampuan mereka yang menghalangi mereka. Oleh karena itulah kompleks inferioritas berkembang.
Adalah mudah untuk dipahami bagaimana anak yang diabaikan –seseorang yang tidak diinginkan atau ditolak- dapat mengembangkan kompleks inferioritas. Masa bayi dan masa kanak-kanak mereka ditandai dengan kurangnya cinta dan rasa aman, dikarenakan orang tua yang acuh tak acuh atau bahkan orang tua yang memiliki rasa permusuhan. Hasilnya, anak dapat mengembangkan perasaan tidak berharga –bahkan kemarahan- dan melihat semua orang dengan ketidakpercayaan.
Sumber apapun dari perasaan inferioritas, seseorang dapat berkencenderungan untuk mengkompensasi, dan juga mengembangkan apa yang disebut kompleks superioritas.
Kompensasi adalah sebuah strategi dimana perilaku yang satu menutupi atau melindungi, kelemahan, frustasi, nafsu, merasa lemah atau tidak mampu dalam satu area kehidupan lewat sesuatu yang menyenangkan atau keahlian di area lain. Kompensasi bisa menutupi lewat kehidupan nyata maupun imajiner ataupun personal maupun inferioritas fisik. Strategi kompensasi, bagaimanapun tidak sepenuhnya merupakan inferioritas. Kompensasi yang positif bisa menolong seseorang untuk mengakhiri suatu kesulitan. Tetapi lain halnya dengan kompensasi negatif, dimana kompensasi ini akan menghasilkan paksaan pada perasaan inferioritas. Ada dua macam kompensasi negatif:
a.   Kompensasi berlebihan (overcompensation), ciri-cirinya adalah keinginan yang terlalu tinggi, yang menghasilkan kerja keras berlebih, dominasi, self-esteem dan devaluasi diri. Contoh dari kompensasi berlebih ditemukan pada orang orang dengan krisis pertengahan usia. Mendekati pertengahan usia, banyak orang terutama pria, kehilangan energi untuk merawat pertahanan psikologisnya, termasuk perilaku pengganti.
b.   Kompensasi berkurang (undercompensation), yang termasuk permintaan pertolongan, yang berdampak kurangnya keberanian dan ketakutan untuk menjalani hidup.

4.      Social Interest (Minat Kemasyarakatan/ Minat Sosial)
Social interest (minat atau kepekaan kemasyarakatan) dalam Bahasa Jerman disebut Gemeinschaftsgefuhl. Teori Adler tentang hakikat manusia yang agresif, haus akan kekuasaan dan superioritas mengundang banyak kritik karena dianggap telah mengabaikan motif-motif sosial. Adler kemudian memperluas konsepsinya tentang manusia dengan menambahan faktor minat sosial. Wujud dari minat sosial adalah individu membantu masyarakat mencapai tujuan dalam rangka terciptanya kehidupan masyarakat yang sempurna. Adler mengatakan bahwa “Social interest is true and ievitable compensation for all the natural weakness of individual human being”. Artinya bahwa minat sosial merupakan komposisi sejati dan tidak dapat dielakkan bagi semua kelemahan alamiah manusia yang bersifat individual.
Manusia adalah makhluk individual namun disamping itu manusia juga makhluk sosial. Oleh karena itu dorongan kemasyarakatan sudah muncul sejak manusia lahir. Seperti setiap bakat kodrati lainnya, sifat manusia sebagai makhluk sosial tidak dapat muncul secara spontan, namun harus ditumbuhkan melalui suatu proses pembelajaran yaitu latihan dan bimbingan. Kerjasama yang terwujud antar individu membentuk kepribadian serta memberikan penyaluran-penyaluran konkret bagi manusia dalam rangka perjuangan ke arah superioritas. Dengan bekerja demi kepentingan umum, maka manusia melakukan kompensasi bagi kelemahan-kelemahan individualnya sendiri.
Minat kemasyarakatan didasarkan pada sifat-sifat bawaan dan dikembangkan lebih lanjut agar tetap bertahan. Pada tingkatan tertentu, sifat bawaan ini terlihat pada cara-cara bayi atau anak-anak menyampaikan rasa simpatinya terhadap orang lain, padahal mereka tidak dididik untuk dapat melakukan hal tersebut. Misalnya seorang bayi di rumah sakit menangis, bayi-bayi lain yang berada di dekat bayi tersebut pasti juga akan menangis.
Rasa simpati harus ditumbuhkan dan didukung oleh orangtua dan kebudayaan secara keseluruhan, agar seorang anak tidak tumbuh menjadi pribadi yang egois dan kejam. Seorang ibu harus mengajari anaknya kerjasama, hubungan persahabatan, dan keberanian. Adler ingin menghindari salah satu kesalahpahaman tentang social interest ini, yaitu pendapat yang menyamakan kepentingan sosial dengan ekstraversi. Minat atau kesadaran sosial yang dimaksud oleh Adler adalah tidak berarti perilaku-perilaku sosial tertentu, namun pengertiannya mencakup hal yang lebih luas lagi seperti kepedulian terhadap keluarga, lingkungan, masyarakat, kemanusiaan, bahkan bagi kehidupan itu sendiri. Persoalan bagaimana menjadikan hidup kita berarti dan berguna bagi orang lain merupakan minat atau kesadaran sosial. Sebuah komunitas sangat diperlukan manusia untuk perlindungan dan untuk mencapai tujuan pertahanan. Jadi, hal tersebut selalu dibutuhkan oleh manusia untuk bekerjasama, dan kerjasama ini adalah apa yang Adler maksud sebagai minat sosial. Pada saat seorang bayi lahir, ia menemukan dirinya di dalam situasi yang membutuhkan orang lain. Awalnya ibu, lalu anggota keluarga lain dan terakhir rumahnya. Dalam masa pertumbuhan, kita tidak dapat berfungsi dengan baik dalam pengasingan dan harus mengembangkan minat sosial. Semua aspek-aspek dari karakter kita atau gaya hidup menampakkan tingkat dari perkembangan perasaan sosial kita.
Pada sisi lain, bagi Adler, sakit jiwa yang sesungguhnya adalah tidak adanya kesadaran sosial. Segala bentuk sakit jiwa seperti neurotik, psikotik, perilaku kriminal, narkoba, kenakalan remaja, bunuh diri, kemiskinan, prostitusi, dan sebagainya merupakan penyakit-penyakit yang lahir akibat tidak adanya kesadaran sosial. Superioritas personal, keberhasilan dan kemenangan hanya berarti untuk diri sendiri merupakan tujuan orang-orang yang mengidap penyakit jiwa.
Jika kita lihat dalam biografi Alfred Adler, ia adalah anak laki-laki yang merasa nyaman dalam berhubungan dengan anak lain; ia membangun derajat yang tinggi dari minat sosial, yang merupakan sifatnya selama hidupnya. Hal ini menarik bahwa di awal karirnya, Adler memandang manusia didorong oleh gila kekuasaan dan kebutuhan untuk mendominasi. Hal itu terjadi selama Adler sendirian berjuang menentukan sudut pandangnya dalam lingkungan Freudian.
Penulis biografi Freud, Ernest Jones, berkomentar bahwa saat Adler menjadi bagian dari Freudian, ia sering membantah, suka berdebat dan terlihat sangat ambisius seperti saat ia berselisih untuk mengutamakan beberapa pendapatnya. Beberapa tahun kemudian, Jones mengamati, kesuksesan Adler telah membawanya lebih ramah. Bagaimanapun juga, sistem Adler telah berubah sesuai harapannya, dari kekuatan untuk menekan dan mendominasi menjadi dorongan motivasi yang dititikberatkan pada dorongan yang lebih ramah dari minat atau kepekaan sosial.

5.      Gaya Hidup
Ini adalah slogan kepribadian Adler, hal ini menjadi ciri khas dari psikologi Adler karena gaya hidup selalu diulang-ulang dalam semua tulisan Adler. Dengan konsepnya menyangkut gaya hidup, Adler berusaha untuk menjelaskan keunikan seseorang. Gaya hidup adalah pengertian yang sentral dalam teori Adler, tetapi juga pengertian yang paling sukar dijelaskan. Gaya hidup adalah prinsip sistem dengan kepribadian individual berfungsi, keseluruhan memerintah bagian-bagian. Bisa juga dikatakan sebagai prinsip ideografik Adler yang utama. Jadi setiap orang mempunyai gaya hidupnya masing-masing yang membedakannya dengan yang lain.
Setiap orang memiliki satu tujuan hidup yang utama dan sama yaitu: superioritas atau perfection (kesempurnaan), tapi ada banyak tingkah laku spesifik dan berbeda-beda yang digunakan individu untuk mengusahakan tujuan itu. Masing-masing orang akan mengatur gaya hidupnya agar sesuai dan cocok dengan tujuan akhirnya dan menentukan jalan atau cara untuk memperoleh tujuan tersebut. Misalnya cendikiawan berusaha menjadi superior dengan mengembangkan intelektualnya, sedangkan olahragawan mengerahkan segenap usahanya untuk mencapai kesempurnaan otot. Untuk memahami bagaimana gaya hidup berkembang, kita harus kembali pada konsep perasaan inferior dan kompensasi.
Semua tingkah laku orang muncul dari gaya hidupnya. Orang-orang menciptakan diri mereka ketimbang dibentuk secara pasif oleh pengalaman masa anak-anak. Adler berpendapat bukan hereditas atau lingkungan yang menentukan kepribadian. Tetapi, orang mempersepsikan, mempelajari dan mengingat apa saja yang cocok dengan gaya hidupnya, dan mengabaikan semua sisanya serta menyediakan dasar konstruksi kreatif bagi sikap kita terhadap kehidupan. Gaya hidup terbentuk pada usia 4 atau 5 tahun, sejak itu pula pengalaman diasimilasikan dan digunakan sesuai gaya hidup yang unik ini. Sikap, perasaan, apersepsi terbentuk dan menjadi mekanik pada usia dini, dan sejak itu praktis gaya hidup tidak bisa berubah, meskipun ada cara-cara baru untuk mengungkapkan gaya hidup yang unik, meski akhirnya akan sangat dipengaruhi oleh gaya hidup yang sudah terbentuk pada usia awal. Adler bersikeras gaya hidup kita tidak ditentukan untuk kita; kita bebas memilih dan menciptakan self-self kita sendiri. Pertama diciptakan, gaya hidup menyisakan nilai yang konstan sepanjang hidup dan merupakan karakter dasar kita yang menjelaskan sikap dan perilaku kita terhadap masalah di luar. Menurut Adler gaya hidup sebagian besar dipengaruhi oleh inferioritas-inferioritas khusus, baik yang nyata ataupun khayalan yang dimiliki orang. Gaya hidup merupakan kompensasi dari suatu inferioritas khusus. Contoh gaya hidup dari suatu inferioritas khusus:
a.    Anak yang kurang pandai akan berjuang mencapai superioritas intelektual.
b.    Napoleon yang bersifat serba menaklukkan bersumber pada tubuh yang kecil.
c.    Nafsu serakah Hitler untuk menaklukkan dunia karena impotensi seksualnya.
Adler menekankan pentingnya masalah hidup yang harus diatasi tiap individu, dan ia mengelompokkannya kedalam tiga kategori, yaitu: masalah yang melibatkan tingkah laku terhadap orang lain, masalah pekerjaan, dan masalah cinta. Adler menyatakan bahwa eksistensi empat gaya hidup dasar diambil oleh orang-orang untuk dapat bekerja sama dengan masalah-masalah tersebut.
Jenis pertama menunjukkan Dominant or ruling attitude (sikap memerintah); dengan sedikit atau tanpa sama sekali kesadaran dan minat sosial. Orang-orang tersebut senang berperilaku tanpa menghormati orang lain. Yang lebih berbahaya dari jenis ini akan menyerang orang lain secara langsung dan menjadi sadis, delikuen, dan ganas. Yang kurang berbahaya akan menjadi alkoholik, kecanduan obat, dan bunuh diri. Adler berpendapat bahwa melalui perilaku tersebut secara tidak langsung mereka menyerang orang lain. Dengan kata lain, mereka menyakiti orang lain dengan menyakiti dirinya sendiri.
Jenis gaya hidup kedua adalah Getting (mendapatkan), menurut Adler ini yang paling umum terjadi, yaitu mengharapkan mendapatkan apa saja dari orang lain dan menjadi sangat tergantung pada orang lain.
Jenis ketiga, jenis Avoiding (menghindar); tanpa usaha untuk menghadapi masalah hidup. Dengan menghindari masalah, orang-orang tersebut menghindari kemungkinan kekalahan. Ketiga jenis gaya hidup diatas tidak dipersiapkan untuk menghadapi dan menyesuaikan diri dengan masalah. Mereka tak mampu bekerja sama dengan orang lain.
Jenis gaya hidup keempat, jenis Socially Useful (bermanfaat sosial), merupakan yang dapat bekerja sama dengan orang lain dan bertindak dalam kesesuaian dengan kebutuhan mereka. Orang-orang tersebut menyesuaikan permasalahan hidup dengan kerangka minat kemasyarakatan yang dikembangkan dengan baik. Minat kemasyarakatan digunakan untuk membentuk bagian utama dalam sistem Adler. Ia percaya bahwa bersama dengan orang lain adalah tugas pertama kita bertemu dalam hidup dan bahwa penyesuaian sosial kita berikutnya mempengaruhi pendekatan kita terhadap semua masalah hidup kemudian.
Penjelasan yang sederhana tentang tingkah laku manusia berkembang pada tahun 1920-an dan 1930-an namun tidak memuaskan Adler. Karena ia menganggap penjelasan ini terlalu sederhana dan mekanistik, ia mencari prinsip yang lebih dinamik dan menemukan diri yang kreatif.

6.      Diri Kreatif
Konsep ini merupakan puncak prestasi Adler sebagai teoritikus kepribadian. Diri kreatif yang bersifat padu, konsisten, berdaulat dalam struktur kepribadian merupakan penyebab utama semua tingkah laku manusia. Diri kreatif merupakan jembatan antara stimulus-stimulus yang menerpa seseorang dan respon-respon yang diberikan orang yang bersangkutan terhadap stimulus-stimulus tersebut. Daya kreatif diri sukar digambarkan karena kita hanya dapat melihat pengaruh-pengaruhnya.

C.    Penelitian Khas dan Metode Penelitian
Observasi-observasi empiris Adler sebagian besar dilakukan di lingkungan terapeutik dan paling banyak berupa rekonstruksi-rekonstruksi tentang masa lampau sebagaimana diingat oleh pasien dan penilaian-penilaian atas tingkah laku sekarang berdasarkan laporan verbal. Beberapa contoh kegiatan Adler diantaranya:

1.   Urutan kelahiran dan kepribadian
Sejalan dengan perhatiannya terhadap penentu-penentu sosial kepribadian, Adler mengamati bahwa kepribadian anak sulung, anak tengah, dan anak bungsu dalam suatu keluarga akan berlaianan. Hal ini dikaitkan dengan perbedaan-perbedaan dan pengalaman-pengalaman khusus yang dimiliki setiap anak sebagai anggota suatu kelompok sosial.
Anak yang lahir pertama atau sulung mendapatkan banyak perhatian sampai anak kedua lahir, kemudian ia segera diturunkan dari posisi yang menyenangkan itu dan harus membagi kasih sayang orang tua dengan bayi yang baru lahir. Pengalaman bisa membuat anak sulung bertingkah laku macam-macam seperti membenci orang lain, melindungi diri terhadap perubahan nasib yang terjadi secara mendadak dan merasa tidak aman. Anak sulung juga cenderung menaruh perhatian pada masa lampau ketika mereka menjadi pusat perhatian. Apabila orang tua menangani situasi ini secara bijaksana dengan mempersiapkan anak sulung menghadapi munculnya seorang saingan besar, kemungkinan bahwa anak sulung akan berkembang menjadi seorang yang bertanggung jawab dan bersifat melindungi. Sedangkan orang yang bersifat neurotik, penjahat-penjahat, pemabuk, dan orang yang bermoral  bejat yang diamati oleh Adler adalah anak sulung.
Ciri anak kedua atau anak tengah adalah ambisius. Ia selalu berusaha melebihi kakaknya. Ia cenderung memberotak atau iri hati, tetapi pada umumnya ia dapat menyesuaikan diri dengan lebih baik dibandingkan kakak atau adiknya.
Anak yang paling muda atau yang paling akhir lahir tidak pernah merasa shock dengan pelengseran kedudukan oleh anak yang lain dan sering menjadi kesayangan atau bayi dalam keluarga, khususnya jika saudara kandung lebih tua beberapa tahun. Didorong oleh kebutuhan untuk mengungguli saudara yang lebih tua, anak yang lebih muda sering berkembang pada tingkat kesungguhan. Sebagai hasilnya, anak terakhir sering berprestasi tinggi dalam pekerjaan apapun yang mereka kerjakan seperti orang dewasa. Permasalahan timbul jika anak yang termuda manja dan dimanjakan oleh anggota keluarga secara langsung dimana dia tidak perlu belajar untuk melakukan apapun untuk dirinya. Sebagaimana individu tumbuh dewasa, dia mungkin memelihara ketidakberdayaan dan ketergantungan yang merupakan cirri dari masa kanak-kanaknya. Tidak terbiasa untuk berusaha dan berjuang, digunakan untuk tetap dipedulikan oleh orang lain, seseorang akan menemukan kesulitan untuk mengatasi masalah dan penyesuaian diri pada masa dewasa. Sama seperti anak sulung, kemungkinan besar ia menjadi anak yang mengandung masalah dan menjadi orang dewasa neurotik yang tidak mampu menyesuaikan diri.

2.   Ingatan-ingatan awal
Adler berpendapat bahwa ingatan paling awal yang dapat dilaporkan seseorang merupakan kunci penting untuk memahami gaya hidup dasarnya. Misalnya seorang anak gadis mulai bercerita tentang ingatannya yang paling awal dengan berkata, “Ketika saya berusia 3 tahun, ayah saya...”. Hal ini menunjukan bahwa ia lebih tertarik pada ayahnya daripada ibunya. Selanjutnya ia berkata bahwa ayahnya membawa sepasang kuda poni untuk kakaknya dan dirinya sendiri dan kakaknya mengendarai ke jalan sedangkan ia sendiri terseret oleh kuda kecilnya ke dalam lumpur. Inilah nasib anak yang lebih kecil (menjadi anak kedua terbaik dalam bersaing dengan seorang kakak) dan hal tersebut memotivasi untuk berusaha melebihi kakak yang berada di di atasnya. Gaya hidupnya dikendalikan oleh ambisi, keinginan menjadi yang pertama, perasaan tidak aman dan kekecewaan yang dalam, pertanda kuat akan kegagalan.
Seorang pemuda yang dirawat karena menderita kecemasan berat, mengenang kembali suatu peristiwa di masa lampau sebagai berikut. “Ketika saya berusia kira-kira 4 tahun, saya duduk di jendela dan memperhatikan sejumlah pekerjaan membangun sebuah rumah di seberang jalan, sementara ibuku merajut kaos kaki”. Ingatan ini menujukan bahwa pemuda itu ketika kanak-kanak dimanjakan karena ingatan berkisar sekitar ibunya yang bersikap melindungi. Fakta bahwa ia memperhatikan orang-orang lain yang sedang bekerja menunjukkan bahwa gaya hidupnya adalah penonton, bukan partisipan. Ini tampak dari fakta bahwa ia menjadi cemas setiap kali ia mencoba mulai suatu karier. Adler menganjurkan  supaya ia memilih pekerjaan dimana kegemarannya melihat dan mengamati dapat dimanfaatkan. Pasien tadi menerima nasihat Adler dan menjadi pedagang barang-barang seni yang sukses.
Adler menggunakan metode ini terhadap kelompok-kelompok maupun perorangan dan menemukan ternyata metode ini cukup mudah dan ekonomis untuk meneliti kepribadian. Ingatan-ingatan awal kini digunakan sebagai suatu teknik proyektif.

3.   Pengalaman masa kanak-kanak
Adler sangat tertarik pada jenis-jenis pengaruh awal yang mengakibatkan anak muda tergelincir ke dalam gaya hidup salah. Ia menemukan tiga faktor penting:
a.   Anak-anak yang memiliki inferioritas-inferioritas
b.   Anak-anak yang dimanjakan
c.   Anak-anak terlantar
Anak-anak yang memiliki kelemahan fisik atau jiwa menanggung beban berat dan mungkin merasa kurang mampu menghadapi tugas-tugas kehidupan. Mereka seringkali menganggap dirinya sebagai orang-orang yang gagal. Akan tetapi jika mereka memiliki orangtua yang memahami dan mendorong maka mereka bisa melakukan kompensasi terhadap inferioritasnya dan mengubah kelemahannya menjadi kekuatan. Banyak orang terkemuka mulai hidup dengan menderita suatu kelemahan organik yang kemudian dikompensasikan.
Berulang kali Adler berbicara dengan tegas mengingatkan bahaya memanjakan anak karena ia melihat ini sebagai kutukan paling serius yang dapat menimpa anak. Anak-anak yang dimanjakan tidak mengembangkan perasaan sosial, mereka menjadi orang lalim yang mengharapkan masyarakat menyesuaikan diri dengan keinginan-keinginan yang berpusat pada diri mereka sendiri. Adler menganggap mereka sebagai kelompok dalam masyarakat yang secara potensial sangat berbahaya.
Pengabaian anak juga membawa akibat-akibat yang tidak menguntungkan. Anak yang diperlakukan secara buruk pada masa kanak-kanak akan menjadi musuh masyarakat ketika menjadi dewasa. Gaya hidup mereka dikuasai oleh kebutuhan untuk balas dendam. Ketiga keadaan ini (kelemahan organik, pemanjaan, dan penolakan) menimbulkan konsepsi-konsepsi yang salah tentang dunia dan mengakibatkan gaya hidup yang patologis.



























KESIMPULAN

Menurut Adler, masalah dalam kehidupan selalu bersifat sosial. Fungsi yang sehat bukan hanya mencintai dan bekerja, melainkan merasakan kebersamaan dengan orang lain dan mempedulikan kesejahteraan mereka. Beberapa prinsip penting dalam teori Adler adalah sebagai berikut:
1.      Setiap orang berjuang untuk mencapai superioritas atau kompetensi personal.
2.      Naluri agresi setiap individu adalah penyebab utama gangguan psikis pada usia dewasa.
3.      Setiap orang mengembangkan gaya hidup dan rencana hidup yang sebagian disadari atau direncanakan dan sebagian tidak disadari.
a.       Gaya hidup seseorang mengindikasikan pendekatan yang konsisten pada banyak situasi.
b.      Rencana hidup dikembangkan berdasarkan pilihan seseorang dan mengarah pada tujuan yang diperjuangkan seseorang untuk dicapai.
4.      Kualitas kepribadian yang sehat adalah kapasitas untuk mencapai “fellow feeling” atau Gemeinschaftgefuhl, yang fokus pada kesejahteraan orang lain. Adler menyebutnya minat kemasyarakatan.
5.      Ego merupakan bagian dari diri yang kreatif. Menciptakan realitas baru melalui proses menyusun tujuan dan membawanya pada suatu hasil, disebut dengan finalisme fiktif.
6.      Perkembangan individu tidaklah menitikberatkan pada naluri seksualitas, melainkan penghargaan terhadap diri sendiri sebagai kekuatan motivasi pada manusia, terlepas dari gendernya.







DAFTAR PUSTAKA

Hall, C. S. & Lindzey, G. (1993). Teori-teori Psikodinamik (Klinis). Yogyakarta: Kanisius.

Maman. (2009). Teori Alfred Adler. [Online] Tersedia: http://unikunik.wordpress.com/2009/05/03/teori-alfred-adler/#more-49. (8 Mei 2009).

Ramadhani, A. V. (2008). Teori Alfred Adler. [Online]. Tersedia: http://aryaverdiramadhani.blogspot.com/2008/05/vj28v2008-teori-alfred-adler.html. (8 Mei 2009).

Suryabrata, S. (2005). Psikologi Kepribadian. Jakarta: RajaGrafindo Persada.




Tidak ada komentar: