Members Links (Text only)

Jumat, 28 Januari 2011

Situ Lembang


Perjalanan kami kali ini rupanya meleset jauh dari perkiraan semula. Apa yang direncanakan tidak sesuai dengan kenyataan di lapangan. Tadinya akan ada empat orang yang akan pergi, namun sehari menjelang keberangkatan ia membatalkan diri. Alasan yang dikemukakanya cukup lucu, ia takut hantu. Rupanya ia diberitahu oleh temannya kalau wilayah Situ Lembang banyak hantunya. Dan ia termakan omongan temannya agar membatalkan saja perjalanan kesana. Padahal semua perlengkapan dan perbekalan sudah siap. Akhirnya kami bertiga yang berangkat ke tempat yang biasa dijadikan tempat Pendidikan Dasar Wanadri dan wilayah latihan Kopassus ini.
Bada solat Subuh kami mulai perjalanan ini. Perjalanan dimulai dengan naik angkot sampai Terminal Ledeng. Dari situ perjalanan disambung dengan naik angkot jurusan Parongpong dan turun di Villa Istana Bunga. Belum jam 7 pagi ketika kami tiba di Vila Istana Bunga dan mulai berjalan kaki. Belum satu jam berjalan melalui vila dan perkampungan di daerah Ciwangun, kami tiba di sebuah air terjun. Sejenak kami rehat dan ambil nafas banyak-banyak. Maklum kami bukanlah pejalan handal. Modal kami hanyalah kemauan dan bekal makanan yang dikira2 cukup. Bisa jadi pejalan-pejalan seperti kami inilah yang sering diberitakan hilang di alam terbuka. Dengan perbekalan seadanya, pengetahuan yang minim,skill yang pas-pasan, dan informasi yang kurang akan daerah tujuan adalah beberapa faktor yang bisa menyulitkan para pejalan nantinya. Kita tidak akan pernah tahu apa yang akan terjadi di alam, tidak ada seorangpun tahu. Kebodohan yang tidak akan kami ulangi lagi.
Setelah satu jam berjalan, kami tiba di Cijanggel, kampung terakhir sebelum kita memasuki wilayah latihan Kopassus tersebut. Selewat pos Lawang Angin kami disambut hutan pinus. Jalan berbatu lurus dengan beberapa becekan bekas hujan kemarin. Rute yang kami lewati sebenarnya sangat mudah, hanya cukup mengikuti jalan besar saja. Setelah hampir tiga jam berjalan (bisa saja lebih cepat, tapi kami berjalan santai sambil mengamati beberapa burung yang sering terlihat di sepanjang perjalanan) kami tiba di Plang Komando. Disitu ada persimpangan yang jika kita mengambil ke kanan kita akan tiba di daerah Siweh, untuk menuju situ atau danau (tujuan kami) kami mengambil jalan lurus. Setengah jam perjalanan dari plang komando kami tiba lagi di persimpangan. Jika lurus kita akan tiba di barak latihan Kopassus, kami mengambil jalan ke kiri untuk menuju tepi danau. Tak lama berjalan kami tiba di tepi danau.
Kami tidak langsung mendirikan tenda, tapi kami menikmati sisa-sisa kebesaran Gunung Sunda Purba. Konon katanya Situ Lembang ini adalah sisa kaldera gunung raksasa tersebut. Situ Lembang berada diantara Gunung Burangrang dan Gunung Tangkuban Perahu, selain itu ada juga beberapa gunung yang mengelilinginya. Baru menjelang lohor kami mendirikan tenda dan mulai memasak.
Logistik kami berlimpah ketika itu. Wajar saja, perbekalan untuk empat orang dipergunakan pada tiga orang. Ini pula yang menjadi sebab kami menghabiskan banyak malam di sini.
Hari pertama kami disini, tidak ada pejalan lain yang kemping disini, jadi praktis kami memonopoli Situ Lembang. Menjelang sore mulai berdatangan para pemancing yang mencoba peruntungan mencari ikan di danau, namun sebelum malam mereka sudah turun kembali. Api unggun kami nyalakan dengan kayu yang kami temukan diperjalanan naik tadi. Kami menemukan tunggul pohon yang sudah mati. Perlu dua orang untuk menggotong batang kayu itu. Kayu ini menjadi induk api unggun kami. Sampai di hari kami memutuskan untuk pulang api di kayu ini masih menyala.
Sungguh menyenangkan berapi unggun di tepi danau dengan hanya kami saja yang ada disitu. Lampu di bangunan barak berkedipan di kejauhan. Hamparan langit cerah membuat kami nyaman menikmati unggun di depan hotel bintang sejuta yang kami bangun siang tadi. Tiga gelas coklat panas, sepanci nasi liwat, sarden, dan remah tepung ayam goreng mengganjal perut kami sampai esok hari. Obrolan bertema impian-impian mengiringi jamuan makan malam di hotel bintang sejuta. Angin dingin danau beradu dengan panas api unggun membuat bagian depan badan kami hangat dari api namun punggung mengigil terkena hempasan angin.
Selama beberapa hari di sana, hampir tidak ada kegiatan yang beragam. Bahkan bisa dikatakan kegiatan kami monoton. Pagi hari, setelah sarapan, kami akan berjalan-jalan di seputaran danau sambil mencari potongan dahan yang jatuh dari pohonnya. Kami tidak pernah memotong batang yang masih hidup untuk api unggun. Siang hari, setelah makan siang, kami istirahat siang sambil tiduran atau mencari inspirasi untuk puisi dan cerpen temanku. Sore kami biasanya akan melihat orang yang memancing dengan segala tingkah polahnya. Malam hari, selepas solat magrib, kami makan sambil menikmati api unggun.
Malam kedua ada dua kelompok pejalan yang juga menginap di tepi danau, sehingga kami tidak sendiri lagi. Menjelang tengah malam, ketika suhu sedang dingin-dinginnya teman kami keluar tenda untuk solat malam dan kontemplasi. Di tempat semacam ini sangat cocok untuk dijadikan tempat kontemplasi dan merenung mengenai apa yang telah dan akan dilakukan dalam hidup ini. Kita akan sangat menyadari betapa manusia tidak ada apa-apanya dihadapan pencipta-Nya. Kita begitu kecil dihadapan alam.
Entah berapa malam kami habiskan di Situ Lembang. Kami memutuskan pulang setelah perbekalan makanan sudah habis dan kami rasa sudah cukup lama kami di tempat ini. Begitu banyak pelajaran yang kami peroleh ketika itu, salah satunya adalah persahabatan dan perasaan yang sama sebagai manusia. Sesungguhnya tidak ada manusia yang berbeda ketika berada di alam terbuka, semua merasakan dingin dari hembusan angin yang sama dan menikmati hamparan langit yang bertabur bintang tanpa ada seorang pun yang berhak untuk menghalanginya.

Tidak ada komentar: