Members Links (Text only)

Minggu, 30 Januari 2011

KARAKTERISTIK HELPERS


MENGAPA PROSES “HELPING” EFEKTIF DALAM MEMBANTU INDIVIDU UNTUK BERKEMBANG?
            Dalam bab ini akan dijelaskan beberapa hal penting yang menyangkut karakteristik helper :
1.     Menerangkan hasil beberapa penelitian tentang karakteristik helper;
2.    Membuat daftar dan gambar enam karakteristik umum dari helper dan lima kondisi trait helper secara individual yang memudahkan;
3.    Menggambarkan lima level dari pemfungsian helper
4.    Menggambarkan hubungan antara gaya interview helper dan gaya hidup helper;
5.    Motivasi sebagai seorang helper.
Comb mengadakan studi yang menggambarkan bahwa para helper dipandang lebih mampu menyelesaikan masalah dan mengelola hidup mereka. Selain itu juga dipandang sebagai orang yang dapat dijadikan tempat bergantung (dependable), bersahabat (friendly) dan seseorang yang berjasa (worthy).
Roger (1961) menyimpulkan berdasarkan pengalaman dan penelitian ulang bahwa teori dan metoda mengenai helper kurang lebih diperlukan untuk efektivitas dalam relasi helping daripada bagaimana sikap helper, yaitu bagaimana helpee memandang sikap helper yang akan membedakan efektivitasnya. Hasil penelitian memperlihatkan bahwa individu yang siap untuk menolong harus seorang yang menarik, bersahabat, seorang yang dapat membuat tenang dan seseorang yang memberikan tanggapan mengenai nilai yang dianut oleh helpee. Orang yang dianggap sebagai helper, memberikan rasa percaya diri dan kepercayaan terhadap helpee.

LEVEL (TARAF) DAN GAYA PEMFUNGSIAN HELPING

(LEVEL AND STYLES OF FUNCTIONING)

Pertimbangan terpenting adalah taraf pemfungsian dalam relasi helping. Carkhuff dan Berenson (1967), menjabarkan lima taraf dari pemfungsian untuk enam dimensi interview. Taraf (level) tiga dimensi empati, berhubungan dengan tingkat minimal dalam memberikan respons agar efektif. Empati merupakan kualitas dasar dari bagaimana helper menempatkan diri terhadap diri helpee, bahkan bagaimana helper merasakan pengalaman perasaan helpee. Taraf 2, memberikan empati yang lebih sedikit dan fungsi dari helpee dalam taraf yang lebih rendah. Taraf 1, tidak ada empati. Taraf 4 dan 5, empati dalam taraf yang tinggi.
Pemberian taraf/level yang tinggi tergantung pada kemampuan helper untuk mengekspresikan ide-idenya secara akurat, mengidentifikasi perasaan helpee dengan benar dan mampu berkomunikasi dengan jelas. Penghormatan atau penghargaan, ketulusan hati, kekonkritan, dan kehangatan, dapat diskalakan dari taraf 5 yang tertinggi sampai dengan taraf 1 yang terendah.
Carkhuff dkk. (1969) memberikan bukti yang meyakinkan bahwa jika helper berfungsi pada taraf yang tinggi dalam memberikan penghargaan terhadap kondisi pendukung yang penting, maka perubahan akan terjadi dalam diri helpee. Sebaliknya, apabila proses helping dilakukan pada taraf yang rendah dapat memberikan konsekuensi yang buruk pada helpee dan helpee berada pada taraf yang sama maka perubahan tidak akan terjadi.

Karakteristik dari helper dapat dibuat dalam skala. Dibawah ini terdapat skala mengenai karakteristik helper.
1.     Taraf / level 5
Secara konsisten berpengaruh terhadap proses helping. Kualiatas respon helper secara konsisten berada pada taraf tinggi.
2.    Taraf 4
Memberikan pengaruh terbesar dalam proses helping. Kualitas respon helper sebesar 75% dari keseluruhan waktu.
3.    Taraf 3
Karakteristik helping yang diberikan minimum dan tidak menentu, sedikitnya setengah dari keseluruhan waktu. 50% content analisa, dan 50% perasaan.
4.    Taraf 2
Terdapat beberapa karakteristik dari helper, sedikitnya 10% dari keseluruhan waktu. Masuk kemasalah content, perasaan helpee belum dirasakan oleh helper. Kualitas respon helper rendah.
5.    Taraf 1
Helper belum menggunakan karakteristiknya sebagai helper, tetapi lebih menekankan bagaimana membina rapport yang baik. (entry point awal)
Karakteristik pendukung lainnya, yang didapatkan dari studi jangka panjang, adalah perwujudan yang luas dari gaya dan teori tentang helping. Hasilnya adalah mereka memiliki aplikasi tersendiri dalam relasi helping. Misalnya Rogers yang menekankan pentingnya sumbangan yang diberikan oleh trait helper secara individual terhadap proses helping. Sedangkan ahli lain, menekankan pada metoda dalam mengubah lingkungan dari pada sikap helper, meskipun kebanyakan menekankan pada sikap dan cara cepat merubahan tingkah laku.

Proses “Helping” dan Gaya Hidup Helper (Helping and helper life style)

Kondisi pendukung dari proses helping adalah gaya hidup dari helper. Kondisi-kondisi ini bukan merupakan suatu gaya yang dianggap trait, tetapi bukan karakteristik dari gaya hidup mereka diluar proses helping. Jika mereka tidak hidup dalam kondisi yang dibuat-buat dan tidak tepat. Kehidupan seorang helper harus direncanakan dalam tindakan yang memuaskan dan hidup berdasarkan nilai-nilai ideal mengenai aktivitas dan seseorang yang mampu mengaktualisasikan diri. Untuk menambah keadaan ini, seorang helper harus memberikan perhatian terhadap pembaharuan dan perubahan hidup, yang secara periodik memperngaruhi tujuan hidup mereka, nilai-nilai pribadi yang dianut, mengatur tujuan baru, dan menentukan sumber-sumber energi yang baru. Untuk menghindari keadaan yang ketinggalan jaman, helper yang professional harus terus mengembangkan konsep dan metoda dari proses helping. Para helper membutuhkan pengalaman yang baru yang akan membantu kontak perhatian adalah meningkatnya angka kelahiran, penurunan tingkat kesejahteraan, kurang percara diri, dan perasaan yang tidak enak yang bersifat umum. Sejalan dengan perkembangan dari proses helper, para helper harus menemukan cara-cara baru untuk membatu relasi dari proses helping.

 

Penyesuaian Helper dan Helpee (matching helpers and helpees)

Meskipun penelitian mengenai karakteristik helper, trait dari helpee dan metode helping telah dilakukan, namun hal ini belum dilakukan dalam interaksi yang nyata antara helper dan helpee. Bukti-bukti yang berkembang dari penelitian mendorong akal sehat kita untuk melakukan observasi bahwa adanya kesesuaian antara kepribadian helper dan helpee merupakan faktor penentu terjadinya relasi yang baik.
           

KEPRIBADIAN HELPER (THE HELPER PERSONALITY)

Secara menyeluruh, tidak ada penggolongan trait khusus yang menggambarkan helper yang efektif, namun hasil penelitian menunjukkan sejumlah indikasi kuat mengenai kondisi yang memudahkan perubahan konstruktif pada helpee  (Carkhuff 1969, Combs 1969, Roger 1961).
           
Karakteristik Seorang Helper (helper personal characteristics)
Sebenarnya kepribadian kita memiliki perangkat dasar yang berguna dalam proses helping (Combs 1969). Istilah yang digunakan adalah self dan instrument yang menandakan bahwa diri kita beraksi spontan terhadap, perubahan yang cepat dalam berhubungan dengan orang lain, yang menuntut hubungan saling menolong.
Berikut ini akan dijelaskan mengenai karakteristik penolong yang menjadi dasar hubungan tersebut yaitu :
1.  Kesadaran akan diri dan nilai yang di anut (awareness of self and values)
Seorang helper harus menyadari benar mengenai diri dan batas kemampuannya. Hal ini penting untuk menghindarkan adanya proyeksi penilaian dari helper dan orang yang membutuhkan pertolongan. Jadi, salah satu karakteristik yang penting adalah mencoba menunda penilaian pada orang lain.
2.  Kemampuan untuk menganalisa perasaan-perasaan sendiri (ability to analyze the helper’s own feeling).
Observasi-observasi dari para ahli helping mengingatkan bahwa seseorang mempunyai kebutuhan menjadi “dingin”, dilepaskan dari perasaan-perasaan seseorang. Ketika pertolongan yang efektif diikuti dengan kesadaran dan kontrol dari perasaan-perasaan seseorang untuk mencegah proyeksi dari kebutuhan-kebutuhannya.
Salah satu dari fenomena yang menarik tentang interaksi manusia adalah efek kharismatik. Beberapa orang ternyata harus memperkuat energi auranya untuk mempengaruhi orang lain agar mendatanginya. Dimana beberapa akibat dari hal tersebut kemungkinan adalah adanya efek dari placebo, yang berarti bahwa melalui kekuatan mempengaruhi, usaha-usaha helper atau posisinya sebagai pihak otoriter membawa hasil-hasil, dan tidak menjadi masalah apa yang mereka kerjakan. Weissberg (1977). Setelah menyelediki jawaban-jawaban dari pertanyaan-pertanyaan, mengapa yang dilakukan adalah menasehati? Dimana disimpulkan bahwa hal tersebut memberikan efek “mengganggu”, karena hal tersebut berarti ia (helper) secara aktif dan menantang, intervensi-intervensi yang dilakukan oleh helper yang mana menggerakkan helpee kedalam tindakan-tindakan membangun untuk memecah problem-problem meraka. Sebagai ilustrasi, aktivitas-aktivitas seperti pemberian saran secara otoriter, penekanan pada tugas-tugas rumah, dan desakan pada helpee yang tidak mengenal belas kasihan.
Helper harus belajar untuk lebih efektif ketika dihadapkan kepada kebingungan dan konflik-konflik nilai yang mereka alami. Kapan ketegasan diri dan ekspresi kebebasan penting, serta kapan menyeragamkan dan menyesuaikan tingkahlaku-tingkahlaku yang demikian?
Perasaan-perasaan berkuasa atas helpee akan muncul tanpa diharapkan sama sekali. Jika helper tidak berhati-hati mereka dapat terperangkap dalam pengontrolan perasaan-perasaan yang puas dengan diri mereka sendiri, ketika helpee menganggap helper mereka mempunyai perngaruh yang besar bagi diri mereka.
Sebagai kekuatan personal, helper mungkin merasa penting menyadari dimensi-dimensi penyembunyian kekuatan dalam institusi-institusi. Seringkali pelayanan-pelayaan pertolongannya ditujukan untuk mendukung kekuatan organisasi sehingga hasilnya mungkin lebih ditekankan pada penyesuaian diri atau pengamanan diri, dari pada ditekankan pengaktualisasian dan pembebasan.
Helper yang professional menyebut perasaan-perasaan bawah sadar terhadap helpee ini sebagai “countertransferance effect”, yaitu pengekspresian kebutuhan-kebutuhan helper dalam tingkah lakunya, seperti mendominasi, overprotecting, mencintai, menyenangi, membujuk, atau memanipulasi helpee. Perasaan-perasaan ini merupakan transfer relasi helper dengan orang yang signifikan baginya dimasa lalu kedalam hubungan yang ada saat ini.
Agar tidak terjadi tingkah laku tersebut, maka helper harus menyadari kecenderungan untuk mentrasfer kebutuhan-kebutuhan, masalah-masalah, dan perasaan-perasaannya kepada helpee. Kesadaran ini terutama diperoleh melalui umpan balik mengenai tingkah laku helper dalam pengalaman konseling individual dan kelompok. Dengan demikan, helper perlu memiliki kehidupan personal yang baik, dimana ia dapat saja merasa kecewa, frustasi, dan berkonfrontasi dalam hubungan-hubungan “helping”, tapi tidak memproyeksikan hal-hal tersebut pada helpee atau tidak mengembangkan gejala-gejala personal, seperti, depresi, withdrawl, atau keluhan-keluhan fisik. Seorang helper harus memiliki ego yang kuat, yang berarti memiliki keyakinan terhadap penilaian diri nya sendiri sebagai “person”. Helping menuntut keaktifan secara emosional, bahkan ketika dilakukan secara informal, dalam beberap ketentuan harus dibuat bagi helper untuk “me-recharge batre mereka.”
3.  Kemampuan untuk menjadi model dan orang yang memberikan pengaruh (ability to serve as model and influencer)
Helper berfungsi sebagai model dan pemberi pengaruh sosial pada helpee, baik diinginkan ataupun tidak. Apakah helper harus memberikan model kebaikan, kematangan, dan keefektifan kehidupan personal mereka ketika model diberikan apad tingkah laku yang maladaptif.  Terdapat dua reaksi terhadap masalah ini. yang pertama, helper harus memenuhi kehiduapan mereka atau akan cenderung untuk sering menggunakan relasi “helping” ini demi pemuasan kebutuhan-kebutuhan yang tidak terpenuhi. Reaksi yang kedua  kredibilitas helper dapat dipertanyaan jika helper tersebut memimiliki kehidupan personal yang kacau balau tidak sesuai dengan model yang diberikan.
Standar terakhir untuk menilai kecocokan tingkahlaku helper adalah penilaian helpee terhadap manfaat helper. Hal ini penting bagi helper untuk bertingkah laku sebagai helper yang ahli didepan helpee. Schmitd dan Strong 1970 mempelajari tingkahlaku-tingkahlaku “ahli” dan “tidak ahli” dari sudut pandang helpee. Helper dipersepsikan “ahli” karena mereka berbicara dengan keyakinan diri. Helper “ahli” mempersiapkan dahulu pengetahuan tentang helpee mereka, latar belakang mereka, dan alasan mereka datang sehingga helper dapat langsung mengenali inti masalahnya. Sedangkan yang dipersepesikan “tidak ahli” adalah helper yang tegang, ketakutan, bertele-tele dan tidak pasti, serta mengkomunikasikan hal-hal yang tidak menarik dan membosankan. Karena mereka antusias dalam mendengarkan helpee, maka walaupun kurang ahli dan kurang professional mereka sering dipersepsikan “ahli” oleh observer. Oleh karena itu untuk memberikan pengaruh pada helpee, helper harus mempertimbangkan bagaimana mereka dipersepsikan oleh helpee mereka dan jenis model mana yang akan ditampilkan.
4.  Altruism atau sifat mementingkan orang lain
Sebuah pertanyaan vital kepada helper yaitu, mengapa ia ingin menolong orang lain? Hal ini telah dijelaskan diawal bahwa helper juga mempunyai kebutuhan dan mereka mengharap kepuasan dalam memelihara tingkah laku menolong mereka. Kenyataan memperlihatkan bahwa helper yang efektif sangat tertarik pada orang lain. Studi Combs (1969) tentang helper yang efektif menyebutkan bahwa nilai utamanya adalah perhatian mereka terhadap orang lain lebih besar dari pada terhadap benda dan sikap orang lain lebih berarti dibandingkan memfokuskan terhadap diri mereka sendiri.
Ketika ditanya mengapa mereka menolong orang lain, mereka akan menjawab dengan pernyataan yang baik, yaitu karena rasa kemanusiaan dan kebajikan. Namun, sebenarnya ada motivasi lain yaitu karena adanya kebutuhan dan tujuan pribadi dengan cara menolong orang lain, berupa harga diri, status, dan keakraban. Selain itu juga karena adanya pengalaman terhadap penderitaan serta kepuasan yang didapatkannya dalam relasi helping.
Interpersonal attraction adalah suatu prinsip operasional pada beberapa studi helping. Helping secara umum sering timbul dari kekuatan sosial dan perubahan motif. Self interest kolektif dan harapan untuk mempertahankan diri sebagai suatu ras adalah penting sehingga seseorang bisa memberi support pada orang lain. Bila hal ini tidak ada maka akan timbul ancaman kejahatan atau kecelakaan.
5.  Strong Sense Of Ethics
Ketika seseorang mempercayakan kepada helper tentang rahasia dirinya, maka helper tidak boleh membicarakannya kepada orang lain. Helper harus menjaga keserjahteraan helpee. Kelompok-kelompok professional mempunyai kode etik dalam melayani helpee. Kode etik sebagai pedoman bagi helper untuk bertindak sebagai refleksi penilaian umum dalam menghormati hubungan helper-helpee dan tanggung jawabnya.
Poin utama yang ditekankan adalah helper harus berkomitmen untuk bertingkah laku sesuai dengan etika yang direfleksikan dalam standar moral mereka, dilihat dari cara masyarakat dan norma dari profesi helping.


6.  Bertanggung jawab (Responsibility)
Jika dihubungkan dengan tingkah laku etik yaitu berapa besar tanggung jawab mereka untuk diri sendiri dan untuk tingkah laku helpee, yaitu bagaimana mereka dapat mengembangkan keserjahteraan helpee dan harapan sosial.
Hubungan helper dan helpee adalah hubungan yang terbuka. Helper mengerahkan semua kemampuannya hingga tanggung jawab diserahkan kepada ahli atau secara suka rela dan resmi mengakhiri hubungan tersebut. Sehingga pada pertemuan pertama harus dijelaskan kepada helpee bahwa fungsi helper hanya membantu memperjelas masalah helpee dan membantu melihat beberapa alternative penyelesaiannya. Keputusannya harus diambil oleh helpee sendiri. Jika helpee tidak dapat bekerja sama maka helper dapat mencari orang lain dimana helper bisa bekerja lebih efektif.
Adanya ketidak jelasan terhadap siapa yang harus bertanggung jawab pada perubahan tingkah laku helpee. Beberapa helper secara ekstrim mengatakan bahwa helpee yang bertanggung jawab terhadap hasil atau konsekuensi dari hubungan tersebut. Namun yang lain tetap mempertahankan sikap, bahwa helper yang bertanggung jawab atas sesuatu yang terjadi dengan helpee akibat hubungan dalam proses helping. Beberapa ahli memandang permasalahan ini sebagai pembagian tanggung jawab yang disesuaikan dengan kondisi tertentu dan umur helpee.
Tanggung jawab yang berhubungan dengan pengungkapan data pribadi helpee, pada umumnya mempunyai pengaruh yang sangat kuat juga helpee sering merasa tersinggung, atau kadang-kadang merasa takut untuk mengungkapkan lebih banyak lagi. Untuk itu helper harus mengetahui kapan mencegah helpee membuka rahasianya atau mengekspresikan perasaannya.
Helper sebagai Scholar-Researcher (ilmuan-peneliti)
Helper harus mempunyai beberapa kerangka kerja untuk memberikan bantuan. Ketika mereka mulai bertanya tentang manusia, keefektifan pendekatan yang mereka gunakan dalam membantu, atau validitas helping secara umum, mereka berfikir seperti ahli behavioral. Ketika mereka mengumpulkan data secara sistematis tentang tingkah laku helping, membuat kesimpulan yang valid, hati-hati, mereka bertindak sebagai ahli behavioral.
Dalam  meningkatkan ketrampilan mereka, maka helper belajar kembali dengan membaca pengalaman-pengalaman helper lain dan membaca hasil penelitian spesialis lain. Mereka perlu memiliki cara berfikir yang kritis dan kemampuan observasi. Dengan demikian untuk menjadi helper yang efektif dapat tanpa suatu pendidikan formal lebih lanjut, namun dengan kesadaran akan budaya dan ilmu pengetahuan yang sangat luas. helper harus menjalankan hal ini untuk menghindari kekunoan dan memaksimalkan bantuan mereka.  Pelaksanaannya dengan bentuk mengikuti reading program, menerima feedback dan bekerja dengan tujuan pengembangan personal.

Helper sebagai growth facilitator
Rogers (1957) menjabarkan lima kondisi mendasar dalam interview untuk mengembangkan helpee yang harus dimiliki helper yaitu;
a.   Empati helper (helper empathy)
Empati adalah suatu alur perinsip untuk mengerti dan membuat helpee merasa di pahami. Helper berusaha melihat sebagaimana helpee memaknakan dunianya yaitu dari internal frame of referensi mereka. Helper melakukan suatu usaha aktivitas untuk menempatkan diri mereka sendiri dalam internal  perceptual ini tanpa menghilangkan identitas keobjektifan dirinya sendiri, dan melalui pemikiran bersama helpee.
Empati helper dianggap berhasil jika mampu menempatkan diri sebagai cerminan diri helpee sehingga dapat menarik alternative penyelesaian yang bermanfaat dalam memahami dan mengatasi persoalannya.
Empati ini diwujudkan melalui kemampuan helper menangkap apa yang dirasakan helpee dan mengkomunikasikannya secara jelas pada helpee. Combs (1969) mengungkapkan bahwa helper yang efektif mencoba mendengarkan dengan penuh perhatian dan mempertanyakan dalam dirinya;
o   Apa yang dirasakan helpee saat ini.
o   Bagaimana helpee memandang masalahnya
o   Apa yang iya tanggap dalam dunianya.
      Hal ini menunjukkan bahwa kemampuan mengkomunikasikan empati tidak selalu harus melalui tatap muka langsung, bahkan melalui media telepon lebih efektif.
      Namun empty yang berlebihan dapat mengakibatkan klien menjadi individual yang tergantung dan tidak matang.
b.  Kehangatan dan perhatian helper (helper warmth and caring)
Bahasan ini menekankan pada kualitas respon emosional helper dan sering diikuti dengan usaha untuk berempati. Kehangatan merupakan suatu kondisi keakraban dan penuh perhatian yang diwujudkan melalui senyuman, kontak mata, dan tingkahlaku nonverbal lainnya. Hal ini merupakan suatu usaha untuk menjaga kenyamanan helpee dan membuat helpee merasa dihargai.
Perhatian pada dasarnya hampir sama dengan kehangatan, namun secara emosional sifatnya lebih tahan lama dan lebih mendalam. Memberikan perhatian juga berarti suatu cara untuk mengatakan “saya menyukai kamu”.
Freud dan para pengikutnya beranggapan bahwa kehangatan merupakan suatu faktor yang signifikan dalam terapi. Kehangatan akan mengarahkan kepada kedekatan secara psikologis dan akan mengurangi jarak antara helper dan helpee.
Keterampilan menolong meliputi, bagaimana helper menunjukkan perasaan kedekatan, afeksi, dan perhatian pada helpee tanpa diikuti dengan keterlibatan emosional yang terlalu dalam. Selain itu helper juga harus mampu memberikan kehangatan yang sesuai dengan tingkatan yang sedang dijalani. Misalnya diawal pertemuan, intensitas kehangatan harus cukup untuk memulai membina hubungan.
c.   Kerbukaan helper (helper openness)
Salah satu tujuan utama dalam memulai sesuatu hubungan dalam  menolong (helping relationship) adalah mendorong helpee untuk mengungkapkan pikiran dan perasaannya secara bebas kepada helper, dengan demikian hubungan yang terjadi harus dilandasi kejujuran.
Combs (1969) memaparkan bahwa helper yang efektif apabila menggunakan pengungkapan diri dalam membangun suatu hubungan.  Hal yang penting adalah kepercayaan dan selanjutnya tergantung pada tingkat dimana helper dan helpee terbuka satu sama lain.
d.  Penghormatan dan penghargaan yang positif (helper positive regard and respect)
Untuk membuat helpee merasa dihargai sebagai individu, Helper memberikan kebebasan kepada helpee untuk menjadi dirinya sendiri. Dalam proses helping selanjutnya, ketika hubungan telah terjalin, helper mulai mencoba beragam perasaan pada helpee dan menjadi lebih terkendalikan. Helper lebih mengekspresikan sikap persetujuan dan ketidaksetujuan mereka selanjutnya memberikan reinforcement pada tingkah laku tertentu. Tingkah laku spontanitas dan alami menjadi lebih jelas sejalan dengan dalamnya tingkat kepercayaan pada helpee  dan menjadi lebih terbuka pada feedback dari helper.
Secara prinsip alat yang digunakan untuk mengekspresikan rasa hormat adalah menyesuaikan kata-kata dengan ekspresi non verbal dari kehangatan, penerimaan dari empati helper menunjukkan sikap bahwa pertolongan diberikan dengan kondisi bahwa helpee mengungkapkan perasaan jujur dan berusaha menjadi yang terbaik dalam sudut pandang mereka.
e.   Kekonkretan dan kekhususan helper (helper concreteness and specificity)
Kunci dalam menfasilitasi kondisi untuk komunikasi yang akurat dan jelas dalam helping adalah helper harus lebih spesifik dalam bertanya dan tidak terlalu umum/tidak jelas. Helper yang efektif tidak hanya membutuhkan hal yang kongkret, tetapi juga berkonfrontasi dengan helpee tentang hal yang spesifik dan jelas, ketika berhadapan dengan perasaan yang menyakitkan dan perasaan yang tidak dapat diterima oleh helpee. Contohnya, “Tolong beri saya contoh spesifik apa yang kamu rasakan saat ini”. Dengan menggunakan kalimat umum seperti kebanyakan orang. “Kata mereka” atau “Seperti kita” memotong referensi individu dalam bentuk “saya rasa” atau “saya pikir bahwa”.
Helper harus membantu helpee lebih berfokus pada saat ini dari pada masa lalu, atau masa yang akan datang. Memperhatikan atau merasakan melalui pertanyaan dan refleksi. Helper juga menjadi model atau contoh yang baik dalam berkomunikasi secara spesifik dengan menggunakan pernyataan yang jelas tentang “saya”, yaitu ia berbicara dalam istilah “saya pikir” atau “saya rasa” dari pada “orang-orang berkata” atau “mereka berfikir bahwa”.
Satu masalah dalam menggunakan dan menekankan ekspersi khusus adalah adanya kecenderungan untuk mengurangi spontanitas dan asosiasi bebas dari ekspersi perasaan helpee. Seringkali helpee menyimpang, menutupi area positif secara hati-hati dari permasalahan.
Secara tipikal, helper mungkin meyakinkan dan mencontohkan hal yang khususan dan kongkrit pada ekspresi di awal proses. Kemudian, ketika helpee menjadi lebih ikut serta, helper memperbolehkan mereka lebih bebas untuk mengekspresikan diri dalam gaya bahasa natural mereka. Akhirnya, ketika proses berkembang pada titik, merencanakan tindakan-tindakan pelatihan khusus dan ketika membutuhkan pendekatan problem solving, penekanan lebih besar bisa diterapkan pada hal yang khusus dan konkrit untuk berekspersi dan beraksi.
Suatu proses helping sangat tergantung pada komunikasi yang jelas, maka karakteristik kunci harus ada pada seorang penolong yang efektif adalah komampuan dalam berkomunikasi. Bandler dan Grinder, menyontohkan bagaimana helping menjelaskan kalimat-kalimat helpee, memberikan cara yang lebih baik bagi helpee untuk menceritakan diri mereka, dan mendeskripsikan pikiran-pikiran tentang masalah mereka dengan lebih tajam, sehingga akan terjadi komunikasi yang efektif.

Tidak ada komentar: