Members Links (Text only)

Sabtu, 29 Januari 2011

Akar Agresivitas: Budaya Kekerasan

Agresi dalam pendidikan terjadi karena pelaku belajar dari lingkungan, termasuk di dalamnya dari media massa. Kekerasan yang berlangsung pada diri Cliff Muntu berkaitan dengan budaya kekerasan yang dihidupkan dan dipelihara di IPDN. Para senior adalah agen yang mentransfer budaya kekerasan itu kepada para juniornya. Kejadian ini berlangsung dari generasi ke generasi sehingga menjadi budaya kekerasan bagi mahasiswa IPDN.

Berkenaan dengan pentingnya faktor lingkungan atau kebudayaan dalam meningkatkan kekerasan dalam dunia pendidikan, ada sejumlah pernyataan dan penelitian serta teori yang diajukan oleh ahli psikologi yang menyatakan bahwa kekerasan manusia (semata-mata) adalah hasil belajar dari lingkungan sosialnya (Wrightsman & Deaux, 1981). Menurut Wrightsman & Deaux, prinsip dasar teori belajar adalah apabila suatu tingkah laku termasuk tingkah laku agresif diberi reinforcement (penguatan) atau reward (hadiah), maka tingkah laku tersebut akan cenderung diulang pada saat yang lain. Teori belajar observasional atau modeling yang dikembangkan oleh Albert Bandura berasumsi bahwa tingkah laku agresif diperoleh dari hasil belajar melalui pengamatan (observasi) terhadap tingkah laku yang ditampilkan oleh individu lain yang menjadi model (Koeswara,1988). Bandura sendiri pernah melakukan eksperimen yang menunjukkan bahwa kekerasan yang dilakukan model akan ditiru anak-anak (Monks dkk, 2004).

Pandangan ahli-ahli psikologi sosial di atas memperoleh dukungan empiris dari ahli antropologi. Ruth Benedict (Goble, 1994) dan Brown (Setiadi, 2001) berpandangan bahwa lingkungan sosiallah yang membentuk perilaku agresif atau kekerasan. Ruth Benedict (Goble, 1994) menunjukkan bahwa manusia yang hidup dalam lingkungan masyarakat yang saling membantu akan menumbuhkan individu individu yang menyenangkan dan penuh kasih sayang. Sebaliknya, masyarakat yang tidak ramah dan jahat akan menghasilkan individu-individu yang berkarakter keras dan agresif. Hal ini dapat kita lihat dari penelitian Ruth Benedict pada masyarakat masyarakat Indian. Benedict meneliti empat kebudayaan yang tidak ramah dan jahat (Chuckchee, Ojibwa, Dobwo, Kwakiutl) dan empat kebudayaan lainnya yang menghasilkan orang orang yang menyenangkan (Zuni, Arapesh, Dakota, dan Eskimo). Ruth Benedict berpendapat bahwa masyarakat yang tidak dikuasai oleh agresi atau kekerasan memiliki tata tertib sosial yang mengatur bahwa setiap individu, lewat perbuatannya yang sama, melakukan sesuatu yang menguntungkan dirinya sendiri sekaligus menguntungkan kelompok. Salah satu kuncinya adalah bahwa non-agresi (atau saling membantu dan kasih sayang) terjadi karena tatanan sosial telah membuat keduanya itu keuntungan diri dan keuntungan kelompok identik (Goble, 1994). Lingkungan, bagaimanapun sangat menonjol peranannya dalam hal membentuk watak, manusia: apakah menjadi agresif atau penuh kasih sayang.

Senada dengan hasil penelitian di atas, Brown (Setiadi, 2001) mengungkapkan bahwa ada hubungan antara budaya dan kekerasan. Brown menemukan bahwa orang Simbu di New Guinea (baca: Papua Nugini) menunjukkan perilaku agresif yang tinggi dibandingkan dengan apa yang ditemukan Robarchek pada budaya Semai. Budaya Simbu memiliki sikap sangat favorable terhadap perilaku agresif. Dalam budaya ini, orang yang dikagumi adalah orang yang agresif. Status sosial yang tinggi diasosiasikan dengan pria, kekerasan dan sikap kompetitif. Sebaliknya, budaya Semai memiliki sikap sangat negatif terhadap perilaku agresif. Orang-orang Semai justru berpendapat bahwa hanya orang-orang jahat yang bisa bertindak dengan kekerasan.

Penelitian empiris yang ditemukan penulis (Nashori & Diana, 2007) di SMA dan SMK Yogyakarta ini searah dengan hasil penelitian Benedict (Goble, 1994) dan Brown (Setiadi, 2001). Lingkungan sehari-hari siswa SMA dan siswa SMK adalah lingkungan sekolah yang sesungguhnya tidak menoleransi adanya kekerasan. Kalaupun ada kekerasan, maka kekerasan atau agresi itu terbentuk di luar lingkungan sekolah, yaitu lingkungan tempat tinggal (rumah, kos-kosan atau kontrakan). Pengaruh lingkungan dalam sekolah lebih besar dibandingkan dengan lingkungan luar sekolah.

Dalam konteks ke-Indonesiaan saat ini, apa yang dilihat oleh warga negara Indonesia melalui media massa atau melalui kehidupan nyata tentang kekerasan yang dilakukan orang kecil seperti Ryan hingga para pemimpin politik dan mantan presiden, akan menjadi ’pelajaran’ bagi mereka, yang menginspirasi mereka untuk bertindak kekerasan. Tentu saja lingkungan kecil seperti sekolah juga menjadi lingkungan yang membuat seseorang berbuat kekerasan atau tidak. Kasus kekerasan di IPDN, perploncoan, menunjukkan adanya faktor lingkungan yang membudayakan kekerasan.


Akar Agresivitas Lain: Biologis, Amarah, Frustrasi, Lingkungan Fisik, dll
 
Faktor-faktor yang mempengaruhi perilaku agresivitas di antaranya adalah biologis (Buss & Perry, 1992), kognitif (Dodge & Coi, 1987; Dodge & Crick, 1990; Dodge & Newman, 1981), etnis (Ekawati & Nashori, 2001), dzikir (Buchori, 2005), perlakuan orang signifikan (Hidayat, 2004), amarah, frustrasi (Dollard and Miller, 998), cara bersikap terhadap sumber agresi (Nashori, 2004).

Tidak ada komentar: